Handphone dalam Kehidupan Kapusin

Sumber: digitek.id

Catatan Awal
            Ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami perkembangan pesat pada zaman ini. Hal itu ditandai dengan munculnya berbagai macam alat-alat teknologi canggih dalam kehidupan manusia. Salah satu alat teknologi yang tak lagi asing dalam kehidupan manusia adalah handphone. Alat teknologi ini sudah merambah ke dalam kehidupan manusia, mulai dari balita hingga lanjut usia, mulai dari awam hingga religius, dari pusat kota hingga pelosok desa. Munculnya alat teknologi ini memunculkan daya tarik bagi manusia. Alat teknologi ini digunakan untuk memperlancar relasinya dengan sesama. Dan ternyata sikap dan keinginan manusia untuk mengenal dan  berelasi rupanya memang tak terhentikan lagi. Semuanya itu menjadi semacam kebutuhan yang semakin meningkat peranannya dalam setiap zaman.
            Adanya handphone memang sangat memudahkan manusia untuk saling bertukar informasi. Jika pada awalnya handphone hanya sekedar digunakan untuk menghubungi seseorang atau mengirim sms, sekarang akses yang tersedia di handphone sungguh beraneka ragam. Dengan menggunakan handphone, seseorang dapat membuka dan menggunakan akses internet, facebook, twitter, whatsapp, dan sejenisnya.
       Fasilitas yang disediakan dalam handphone memang sangat berarti, apabila kita menggunakannya sesuai dengan kebutuhan kita. Bahkan Paus Benediktus XVI  dalam pesannya untuk Hari Komsos Sedunia ke-47 pada tanggal 12 Mei 2013 menyerukan bahwa jejaring sosial merupakan suatu ruang baru untuk Evangelisasi. Dalam pandangan Paus, apabila orang-orang menggunakan jejaring sosial itu secara bijak dan berimbang akan membantu memajukan berbagai bentuk dialog dan debat yang bila dilakukan dengan hormat dan memerhatikan privasi, bertanggungjawab dan jujur, dapat memperkuat kesatuan di antara individu-individu dan memajukan kerukunan keluarga manusiawi secara berdaya-guna.[1] Lantas, bagaimana seorang Kapusin merealisasikan seruan Paus ini?

Handphone sebagai Hasil Teknologi
Perkembangan teknologi begitu pesat. Hal itu tampak dari perkembangan bentuk, jenis dan merk handphone. Di kalangan masyarakat tidak lagi dikenal hanya handphone jenis nokia. Sekarang ini telah banyak hadir merk-merk handphone yang tidak asing lagi di telinga masyarakat, seperti: samsung, black berry, k - touch, dan lain-lain. Semua merk-merk ini dapat kita lihat dalam iklan media-media komunikasi dan elektronik.
Dalam lingkungan Gereja, perkembangan teknologi terutama handphone disambut dan diikuti dengan perhatian istimewa. Namun, Gereja tidak hanya sampai pada tahap itu. Gereja membuat suatu pedoman dalam penggunaan alat teknologi itu. Gereja menganjurkan bahwa siapa saja yang menggunakan alat komunikasi itu harus mengetahui norma-norma moral, dan di bidang itu mempraktikkannya dengan setia. Serentak dengan itu, mereka yang menggunakan alat-alat komunikasi hendaknya mempertimbangkan situasi maupun kondisi-kondisi, yakni tujuan, orang-orang, tempat, waktu, dan hal-hal lain yang menyangkut komunikasinya sendiri.[2]
            Anjuran Gereja ini juga mendapat tekanan dalam kehidupan Ordo Kapusin. Dalam Kons. Kap. 2013[3], dijabarkan pentingnya komunikasi bagi para saudara kapusin yang mengambil model dari komunikasi yang terjadi di dalam Pribadi Allah Trinitas. Sebab di dalam Kristus yang adalah Sang Sabda yang menjadi manusia, komunikasi kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera oleh kuasa Roh Kudus menjadi nyata. Komunikasi ini yang kemudian ditanggapi oleh manusia dalam iman dengan mewujudkan dialog yang mendalam. Handphone merupakan salah satu sarana dalam menjalin dialog itu.[4]

Kegunaan Handphone
Pada hakikatnya komunikasi merupakan suatu proses dialog yang dilandasi integritas diri dari pihak-pihak yang saling berkomunikasi. Dalam berkomunikasi dibutuhkan keutuhan kepribadian dan sikap sehingga tercipta keterbukaan hati dan budi (pikiran). Tak dapat dipungkiri bahwa dalam komunikasi selalu dilibatkan pihak-pihak yang mempunyai aneka latar belakang: budaya, agama, tingkat pendidikan, etnik, dan sebagainya. Oleh karena itu, dengan adanya keterbukaan hati dan pikiran, sekat-sekat sosial yang melingkupinya seharusnya tidak menjadi kendala. Keterbukaan hati akan menjadi modal penting dalam praktik berkomunikasi. Sekarang ini komunikasi dan dialog dirasakan sangat kurang, karena manusia semakin dicekam dan dikuasai sikap praktis-pragmatis (mendekati sesama sejauh keperluan) dan kurang kedewasaan pribadi.[5]
Media komunikasi harus diakui semakin mempermudah komunikasi, karena yang jauh menjadi dekat, dan yang dekat semakin merapat. Demikianlah handphone memang sangat berguna dan membantu sebagai alat komunikasi yang canggih. Dengan adanya handphone kita dapat menghubungi siapa pun yang kita inginkan dan dihubungi oleh siapa pun yang memerlukan kita. Banyak rencana, pembicaraan bisnis, relasi, persaudaraan, komunikasi, dapat dilakukan dengan cepat. Sungguh berbeda ketika manusia berada zaman surat - menyurat yang harus menunggu beberapa minggu atau bulan untuk menyampaikan dan menerima informasi dari seseorang, keluarga, atau siapa pun.
Hal yang menyenangkan bahwa dengan adanya handphone setiap orang dapat dihubungi di mana pun dan dalam waktu apa pun. Seseorang dapat dihubungi dan menghubungi ketika berada di kebun, di mobil, di perjalanan, di kamar mandi sehingga segala urusan cepat ditangani. Dengan handphone yang menyediakan layanan SMS, orang dapat mengirim pesan singkat kepada orang lain secara mudah.[6] Memang, pada hakikatnya setiap orang ingin hidup berbagi dengan pihak lain, karena manusia adalah mahkluk sosial sekaligus individu. Maka, apa pun latar belakangnya, setiap manusia senantiasa ingin berada dalam suasana yang komunikatif dengan sesamanya. Dalam hal ini, media komunikasi bisa menjadi wahana aktualisasi diri manusia yang mempunyai latar belakang itu.[7]
Sekarang ini handphone juga praktis. Bentuknya kecil dan mudah dibawa ke mana pun tanpa harus memerlukan tempat yang besar. Handphone yang terbaru sekarang juga telah dilengkapi berbagai akses yang membuat manusia tidak perlu merasa bosan, saat berada di suatu tempat, karena dapat menggunakan akses yang disediakan handphone.[8]

Handphone dalam Kehidupan Kapusin
Handphone bukan lagi tergolong barang ekslusif, sehingga setiap orang dapat memiliki handphone. Hal itu juga tampak dalam kehidupan Kapusin. Seluruh saudara Kapusin yang berkarya memiliki handphone. Bahkan para saudara Kapusin yang sebelumnya hanya menggunakan telepon biara, kini diberikan handphone khusus yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan yang lain.
Secara umum handphone memang digunakan sekedar untuk mengirim atau menerima sms, menghubungi atau dihubungi seseorang. Tetapi ada juga saudara Kapusin yang sungguh memanfaatkan handphone dengan bijak melalui akses-akses yang disediakan dalam handphone. Misalnya ada kapusin yang menggunakan jejaring sosial facebook untuk berbagi renungan, kata-kata mutiara, dan ayat-ayat Kitab Suci.
Pemanfaatan jejaring sosial yang dilakukan oleh para saudara Kapusin ini dianggap rahmat dan sarana pewartaan akan persaudaraan sejati seturut Injil Suci Yesus Kristus kepada semua orang. Atas itu para saudara Kapusin diajak melibatkan diri ke dalam universalitas perutusan Gereja. Secara khusus dalam tugas perutusan Ordo Kapusin. Para saudara diajak untuk membangun persaudaraan yang luas dan konkrit, memberikan kesaksian tentang hidup persaudaraan yang sejati yang berasal dari Injil Yesus di dunia zaman kini.[9] 
Selain itu pemanfaatan jejaring sosial ini dapat menjadi faktor dalam pembangunan manusia. Sebagai contoh, dalam konteks geografis dan budaya dimana orang kristiani terisolasi, jejaring sosial dapat memperkuat rasa kesatuan nyata dengan komunitas kaum beriman di seluruh dunia. Jejaring sosial mempermudah orang berbagi sumber rohani dan liturgi, menolong orang berdoa dengan perasaan kedekatan bersama mereka yang mengaku menganut iman yang sama. Suatu keterlibatan yang sejati dan interaktif dengan pertanyaan dan keraguan dari mereka yang berada jauh dari iman seharusnya membuat kita merasa perlu untuk memelihara iman kita melalui doa dan permenungan, iman akan Allah serta amal kasih kita: “Walaupun saya berbicara dengan bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi apabila aku tidak mempunyai kasih, aku adalah gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (1 Kor 13:1).[10]
Berkenaan dengan proses dialog antar saudara kapusin dengan umat Gereja, Kons. Kap. 2013, mencatat bahwa harus diperhatikan kesamaan dan kesetaraan dialog. Setiap anggota Gereja mempunyai kesamaan radikal dalam martabat dan perutusan. Kesamaan ini berasal dari baptisan yang sama yang diterima oleh setiap umat Gereja Katolik dari Gereja kudus. Struktur hirarkis bukanlah merupakan perbedaan dalam martabat dan perutusan, melainkan sebagai pembeda dalam tugas dan fungsi saja. Persamaan ini mutlak direalisir dengan saling berbagi pendapat secara jujur dan penuh hormat. Berkat kesamaan radikal dalam martabat dan perutusan ini, setiap anggota Gereja termasuk saudara kapusin berhak mengungkapkan pendapat dan menerima informasi dari Gereja.
Tantangan-tantangan dalam Penggunaan Handphone
Pada hakikatnya manusia bercorak sosial. Eksistensinya bersifat terbuka, bukan tertutup. Identitasnya harus ditemukan dalam relasinya dengan sesama, bukan dalam pencarian secara egoistik.[11] Handphone, pada kenyataannya, perlahan-lahan membentuk sebagian manusia menjadi egoistik. Berdasarkan hasil studi dan evaluasi atas kemajuan dan perkembangan media komunikasi yang termuat dalam Kons. Kap. 2013, Ordo Kapusin melihat bahwa media komunikasi adakalanya menjadi wahana bagi pandangan-pandangan salah tentang hidup, agama dan moralitas-pandangan yang tidak menghormati martabat dan tujuan sejati manusia. Dalam persaudaraan Kapusin kita dapat melihat bahwa beberapa saudara tidak lagi memiliki handphone berdasarkan kebutuhan saja. Sebagian saudara justru ingin mengikuti mode seperti kebanyakan awam dalam kehidupannya. Jika ada merk baru muncul, sebagian para saudara Kapusin memiliki handphone itu. Maka tidaklah mengherankan bahwa ada saudara yang memiliki handphone lebih dari dua.
Dampak yang ditimbulkan handphone juga menjauhkan diri saudara Kapusin dari semangat persaudaraan. Di meja makan tidak jarang saudara Kapusin sibuk mengotak-atik handphonenya, padahal para saudara yang lain asyik sharing pengalaman. Ada juga saudara yang lebih senang mengakses fitur-fitur yang disediakan handphone daripada menyempatkan diri untuk berdoa atau meditasi. Sebagian saudara Kapusin juga tidak lagi terlibat dalam rekreasi bersama, karena ia lebih asyik bermain dengan handphonenya. Seandainya pun hadir dalam rekreasi bersama, ada saudara Kapusin tetap sibuk dengan handphonenya; tubuh hadir tapi jiwa tidak. Secara singkat dapat dikatakan dampak handphone membuat sebagian saudara kurang/tidak lagi menjalin komunikasi dengan sesamanya karena asyik dengan handphone di tangannya. Lebih parah lagi, sebagian saudara Kapusin tidak lagi memperhatikan situasi dan tempat menggunakan handphone. Tidak jarang dalam rapat-rapat atau seminar-seminar sebagian saudara Kapusin kurang memberikan perhatian terhadap materi yang diberikan narasumber.
Lebih lagi dampak dari penggunaan handphone ini adalah technophilia. Secara etimologis kata technophilia berarti cinta akan teknologi. Kata ini juga bisa diumpamakan dengan cinta remaja. Orang jatuh cinta pada seluruh proses dan hasil teknologi, termasuk kepandaiannya, kegiatan teknisnya dan alat-alat yang dihasilkannya. Terjadi identifikasi manusia dengan teknologi. Akibat yang ditimbulkan bahwa alat-alat (handphone) itu mulai menguasai manusia sampai manusia tidak sanggup lagi melepaskan diri dari teknologi. Manusia tidak lagi mampu menilainya secara objektif. Adanya benda-benda yang menjadi perpanjangan diri manusia ini, membuat mereka akan merasa tersinggung, diserang, kalau ada orang lain yang mengejek atau menilai negatif hasil teknologi yang begitu mereka gemari. Sarana berubah menjadi tujuan pada dirinya sendiri dan sekaligus menantang nilai-nilai manusia.[12]

Catatan Akhir
Teknologi tidak bisa dibalik dan tidak bisa dihentikan; kehidupan manusia sekarang dan masa yang akan datang ditentukan oleh teknologi. Satu-satunya jalan adalah mengontrol teknologi itu sendiri. Namun, kontrol atas teknologi lebih menambah ancaman teknologi atas kebebasan manusia daripada menguranginya. Sebab kontrol tersebut dilakukan dengan menggunakan solusi-solusi teknis, sehingga semakin lama daerah kebebasan manusia semakin tergeserkan, dan denomasi teknologi semakin diperluas. Meski demikian, bukan berarti bahwa umat tidak dapat menemukan sikap yang benar dan tepat menggunakan handphone.
Sikap yang tepat dan benar menggunakan handphone dapat diwujudkan dengan memperhatikan waktu dan tempat. Para saudara Kapusin juga harus memerhatikan sopan - santun. Alangkah tidak bersopan - santun, apabila kita berbicara dengan orang lain kita menggunakan handphone. Jika tindakan itu kita lakukan, itu berarti bahwa kita tidak menjaga perasaan orang yang menjadi teman kita berbicara.
Sikap yang tepat dan benar menggunakan handphone dapat juga diwujudkan dengan emangat lepas bebas. Dalam prinsip ini kita para saudara Kapusin diajak menggunakan handphone sejauh membantu tujuan hidup, dan jangan digunakan meski baik, apabila tidak membantu tujuan hidup kita. Dengan kata lain, apabila handphone yang meski berguna untuk komunikasi tidak membantu kita dalam mengikuti perayaan Ekaristi, ibadat sabda, atau kegiatan lainnya sebaiknya tidak digunakan atau tinggal di kamar saja.
Jika kita dapat menggunakan dan melaksanakan prinsip itu secara sederhana, kiranya handphone sungguh dapat membantu hidup kita dalam berkarya, berelasi dengan orang lain, dan juga dalam mengembangkan hidup rohani kita. Tetapi jika kita tidak mewaspadainya dengan seksama, maka kita dapat diganggu peralatan modern tersebut, dan akhirnya kita rugi sendiri.


[1] Paus Benediktus XVI, “Jejaring Sosial kepada Kebenaran dan Iman: Ruang Baru untuk Evangelisasi,” dalam Menjemaat, No. 2 XXXV (Mei 2013), hlm. 8.
[2] Konsili Vatikan II, “Dekrit Inter Mirifica”, dalam Dokumen Konsili Vatikan II, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana (Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI - Obor, 2009), no. 4. Untuk penulisan selanjutnya Inter Mirifica akan disingkat dengan IM diikuti dengan nomor.
[3] Kons. Kap. 2013 merupakan cara baru penghayatan hidup saudara kapusin di zaman ini. Isinya  tidak mengubah Kons. Cap. 1982, tetapi sebaliknya Kons. Cap. 1982 disempurnakan dengan melihat kebutuhan zaman dan Gereja.
[4] Konstitusi Saudara Dina Kapusin dan Ketetapan Kapusin General bersama Annggaran Dasar dan Wasiat St. Fransiskus (Roma: Tanpa Penerbit, 2013), no. 156, 2.
[5] Arnoldus Denny Wahyu Retnawan, “Komunikasi dan Persaudaraan Sejati”, dalam Gema (Mei 2014), hlm. 26.
[6] Paul Suparno, Saat Jubah Bikin Gerah (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hlm. 132-133.
[7] Arnoldus Denny Wahyu Retnawan, “Komunikasi dan Persaudaraan Sejati” ..., hlm. 26.
[8] Paul Suparno, Saat Jubah ..., hlm. 133.
[9] Kons. Kap. 2013, no. 13, 1.
[10] Paus Benediktus XVI, “Jejaring Sosial kepada Kebenaran dan Iman: Ruang Baru untuk Evangelisasi,” dalam Menjemaat, No. 2 XXXV (Mei 2013), hlm. 9.
[11] Albertus Sujoko, Belajar Menjadi Manusia: Berteologi Moral menurut Bernard Häring, CSSR, (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hlm. 54.
[12] J. Inocencio Menezes, Manusia dan Teknologi: Telaah Filosofis J. Ellul (Yogyakarta: Kanisius, 1986), hlm. 71-72.

Komentar

Postingan Populer