karcoi
Tak
pernah aku melihat ibu bersikap otoriter. Dia selalu bersikap lemah lembut dan
berusaha menyesuaikan idenya dengan orang lain. Sikap itu tidak terlihat sama
sekali, pada saat ibu mengumpulkan kami anak-anaknya. Ibu menginginkan kami
semua mengikuti pendapatnya. "Mereka itu manusia vampire," ibu
berkata dengan nada ketus.
Kakak-kakakku
tidak setuju dengan pendapat ibu. Bagi mereka tidak mungkin dua jenis mahkluk
berbeda bersatu dalam satu diri. Aku sendiri tidak langsung menolak dan tidak
juga langsung menerima. Dalam pikiranku hadir tentang vampire. Vampire adalah
mahkluk penghisap darah manusia. Barangkali itulah yang menyebabkan
kakak-kakakku tidak setuju dengan pendapat ibu tentang manusia vampire.
Aku
tak tahu secara pasti keberadaan vampire itu nyata atau hanyalah legenda dan
cerita. Tetapi aku mengetahui banyak tentang vampire. Pengetahuan itu kudapat
dari ibu. Dia tidak hanya suka mengajakku menonton film vampire di televisi
atau bioskop. Ibu memberitahukan kepadaku berbagai jenis vampire yang ada di
beberapa Negara belahan dunia ini. Cerita ibu tentang vampire kepadaku
diperoleh ibu dari nenek yang juga gemar menonton vampire. Tetapi kami bukan
keluarga vampire.
Ketika
ibu mengatakan manusia vampire, aku langsung ingat tiga jenis vampire. Barangkali
mereka itulah yang dimaksudkan ibu manusia vampire. Dhampir adalah vampire yang
tak takut sinar matahari, karena ibunya manusia biasa dan ayahnya seorang
vampire. Slave adalah manusia yang menjadi vampire karena meminum darah
vampire. Outcast adalah manusia yang menjadi vampire tanpa meminum darah
vampire original, tetapi karena sihir, kutukan, atau hal-hal yang semacam itu.
"Apakah
mereka Dhampir, Slave, atau Outcast," aku yang berada di samping ibu
berbisik dengan pelan. Aku berharap suaraku tak terdengar oleh kakak-kakakku.
Jika mereka tahu aku berminat dengan sikap ibu, aku harus siap-siap disudutkan
oleh mereka.
"Mereka
lebih mengerikan dari mahkluk-mahkluk itu, No," pandangan ibu padaku
begitu menyeramkan. Seandainya dia bukan ibuku, aku pasti akan lari karena
takut melihat wajahnya. Tetapi aku berusaha mengontrol diriku. Senyum masam
kuberikan pada ibu sebagai tanggapan pernyataannya. Melihat ibu tak mau
mengalah, kakak-kakakku pergi meninggalkannya. Kini aku dan ibu tinggal di
ruang tamu. "Aku tertarik dengan cerita ibu," aku menerangkan
keberadaan diriku di sampingnya.
"Kau
tahu, No, mengapa ibu menyebut mereka manusia vampire?" wajah ibu tak
kalah seram dibandingkan dengan yang sebelumnya.
"Aku
tak tahu, Bu," wajahku seram di hadapan ibu.
"Kau
pikir ibu takut dengan tampangmu!" ibu tertawa melihat wajahku.
"Ceritalah,
Bu," rasa penasaranku membutuhkan jawaban ibu.
Wanita
setengah baya itu menarik nafas dalam-dalam. Tatapannya kosong jauh ke luar
sana. Entah apa sekarang ada dalam pikiran ibu. Sekuat apapun energi yang
keluar, aku tak bisa menebak pikirannya. Aku sabar menunggu suara halusnya.
"No,
ibu bukan tanpa alasan menyebut mereka manusia vampire. Mereka mahkluk yang
kejam, No. Mereka bukan hanya menghisap darah korbannya sampai mati. Tetapi
menyisakan luka dan penderitaan bagi keluarga korbannya. Kau tahu, No, sebelum
mereka berbuat seperti itu ada banyak taktik mereka gunakan," cerita ibu
semakin menarik perhatianku. Kini, alur pemikirannya yang tadinya samar bisa
kuikuti.
"Kau
lihat baliho, spanduk, poster yang banyak terpajang di berbagai tempat, No.
Senyum sumringah, wajah tampan dan cantik menawan ditampilkan, No. Kata-kata
diukir sedemikian indah. Semua orang itu berubah menjadi penyair-penyair
handal. Barangkali jika Khahlil Gibran hidup pada zaman ini, syair-syairnya tak
mampu mengalahkan mereka. Kau tahu untuk apa kata-kata itu dibuat, No,"
perkataan ibu menuntut sebuah jawaban dariku.
"Aku
tak tahu secara pasti, Bu. Hanya aku tahu kata-kata itu untuk menarik perhatian
orang-orang yang membacanya. Selanjutnya mereka berharap para pembaca kata-kata
itu memilih mereka," aku memandang ibu. Kuharap jawabanku memuaskannya.
"Kau
memang pintar, No. Kamu pintar seperti bapakmu. Jika bapakmu masih hidup, ia
pasti akan bangga melihatmu, No. Jawabanmu tidak meleset, No," ibu
mengelus-elus rambut hitamku.
"Tetapi
itu hanya satu taktik, Bu," perkataanku membuat ibu kini tercengang
memandangku. Pandangan ibu seakan-akan menuntutku memberi jawab sejak kapan aku
banyak tahu dunia manusia vampire itu.
"Kau
tahu apa lagi tentang taktik mereka, No?" ibu tidak menyangka ketertarikan
ayah dalam dunia manusia vampire mengalir dalam darahku.
"Ibu
tahu … ada saja dari mereka berbuat hal di luar kebiasaan. Ada dari mereka yang
menjadi tukang ojek, lalu hadir di tengah-tengah para tukang ojek. Ada dari
mereka yang menjadi penjaga parkir yang memarkirkan mobil, sepeda motor, dan
kendaraan lain di pinggir jalan."
"Kau
tahu dari mana semua itu, No," kekaguman kini terpancar di wajah ibu.
"Akh
ibu. Dunia sudah canggih sekarang. Jangan hanya menonton vampire saja. Sekarang
sudah ada internet yang bisa menampilkan berbagai peristiwa yang terjadi di
bumi pertiwi ini, Bu. Tetapi itu hanya sebuah taktik, Bu," suasana
pembicaraan kami semakin menarik.
"Ya
itu hanya sebuah taktik, No. Mereka berbuat seperti itu supaya kaum yang ditiru
merasa simpati dan pada akhirnya memilih mereka. Tetapi sesudah mereka terpilih
nantinya, No, kau pasti tahu apa yang terjadi. Mereka tidak akan ingat lagi
tukang ojek dan penjaga parkir karena orang-orang itu sudah pernah sehari
menjadi tukang ojek dan penjaga parkir," suara ibu terasa berat. Tiba-tiba
di sudut matanya, butiran-butiran mutiara yang tanpa dibeli itu membasahi
pipinya.
"Kenapa
ibu menangis," aku memegang bahu ibu.
"Ibu
teringat akan ayahmu, No. Ayahmu tidak pernah suka melihat orang-orang yang
mengobral janji belaka. Dan ibu tidak bisa mencegahnya. Ayah sering tampil di
barisan depan orang-orang yang menuntut keadilan dari manusia vampire itu. Asal
kau tahu, No, nyawa ayahmu menjadi taruhan atas keberaniannya. Sebulan sebelum
kelahiranmu, ayahmu ditemukan dalam keadaan menggenaskan di sawah. Luka bacok
memenuhi tubuhnya. Dia meninggal dunia dalam keadaan berlumuran darah,
No," cerita ibu membuka rahasia kematian ayah selama ini.
"Itulah,
makanya ibu menyebut mereka manusia vampire?" aku mengusap air matanya.
"Ya,
mereka tidak hanya mengisap darah ayahmu. Mereka meninggalkan duka dan
penderitaan bagi keluarga kita, No. Asal kau tahu, No, manusia vampire itu tak
ditemukan sampai sekarang," tangisan ibu tak terdengar lagi.
"Tetapi
mengapa ibu tetap pergi memilih orang-orang yang terpampang di baliho, spanduk
dan poster itu. Bukankah mereka juga manusia vampire?" aku berkata dengan
penuh emosi.
"No, meski ibu terluka, ibu tetap
percaya bahwa dari antara orang-orang itu tidak akan menjadi manusia vampire.
Ibu yakin bahwa ada dari mereka yang sungguh manusia. Sosok yang memperhatikan
sesamanya dengan penuh cinta kasih, ingat akan Tuhan dan Kitab Sucinya. Ibu
bukan agamaisme, No. Hanya ibu berharap bahwa mereka yang seiman dengan kita
menjadikan Kristus yang telah menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib sebagai
panutan dalam melayani sesamanya, No. Dengan melayani pasti mereka dapat
membawa perubahan bagi sesama dan Negara kita, No," aku dan ibu mengakhiri
pembicaraan kami.
Komentar
Posting Komentar