Kakek
Mata-mata itu
menatapku dengan tajam. Dari ujung rambut hingga ujung kakiku. Aku seolah-olah
orang aneh di antara kerumunan orang yang hadir di tempat itu. Yah, aku memang
sadar. Aku baru pertama kali datang ke tempat itu. Tetapi aku tak setuju anak-anak
itu menatapku seperti itu. Aku jadi kikuk dan salah tingkah. Meski mata-mata
itu milik anak-anak yang umurnya jauh di bawah umurku.
Untuk mengatasi
situasi itu, aku langsung mengulurkan tanganku. Aku mengajak anak-anak itu
berkenalan. "Namaku Teddy, aku Francis, aku Bella, aku Melan, aku Bonti,
aku Erna, aku Lisa," satu persatu menyebutkan namanya.
"Siapa nama
abang?" tanya anak yang terakhir menjabat tanganku.
"Nama saya
Putra," aku memperkenalkan diriku.
"Abang bisa
bermain sepak bola?" Francis menunjukkan bola yang ada di tangannya.
"Ehmm …
bisa dong. Permainan saya hampir setaraf Cristiano Ronaldo loh," candaku
membuat anak-anak tertawa. Begitu tawa reda beberapa anak langsung menarik
tanganku ke lapangan. Ukurannya tidak seperti lapangan sepak bola. Aku
memperkirakan lapangan itu hanya berukuran 9 x 15 meter. Tetapi kami puas
bermain di lapangan itu.
Seusai bermain
sepak bola, mata-mata tajam itu telah berubah menjadi teduh. Anak-anak panti
asuhan itu kini bersikap ramah kepadaku. Mereka lalu menarik tanganku menuju
bangku yang ada di bawah bunga Bougenville. Di tempat itu kami bersenda gurau
sambil menikmati secangkir teh yang dibuat pembina panti. "Wah, ternyata
abang Cristiano Ronaldonya Indonesia ya. Permainan abang hebat," puji
Francis.
"Abang mau
mengajari kami supaya bisa bermain sepak bola dengan baik?" Teddy bertanya
sambil duduk di pangkuanku dengan manja.
"Kalau kamu
serius, abang pasti akan ajari," aku mengelus-elus rambut Teddy.
"Wah,
jangan hanya Teddy saja dong, Bang. Kami juga ajari ya," anak-anak lain
tak mau ketinggalan.
"Baiklah,
kita sama-sama belajar ya," kataku menjanjikan.
Sejak sore itu
tiap Sabtu dan Minggu, aku rutin mengunjungi panti asuhan itu. Sebelum bermain
sepak bola biasanya kami bercanda ria bersama. Entah itu dalam bentuk lelucon
atau bermain-main di lapangan. Jika aku telah di lapangan, anak-anak pasti
langsung berlari ke arahku. Mereka beramai-ramai minta digendong sambil
mengitari lapangan. Teddy biasanya kugendong pada bagian belakang. Bella dan
Francis yang badannya kecil kugendong depan dengan kedua tanganku. Begitulah
anak-anak itu bergantian minta digendong.
"Kalau
begini terus abang bisa bungkuk. Lalu, lama kelamaan bisa menjadi
kakek-kakek," aku berkelakar sambil meniru suara kakek-kakek di hadapan
mereka.
"Kalau
begitu abang jadi kakek kami dong," kelakarku ditanggapi dengan serius
oleh Cordia.
"Ya, abang
jadi kakek kami," anak-anak lain malah ikut mendukung Cordia.
"Ehm ...
Gimana ya?" aku mengernyitkan dahiku.
"Kakek
... kakek," anak-anak itu berseru menjuluki aku dengan sebutan kakek.
"Kalian
boleh panggil abang sebagai kakek kalian. Tetapi kalian harus patuh pada
perintah kakek?" aku menatap satu persatu anak-anak itu.
"Iya
kakek," anak-anak itu menjawab serempak.
Aku pun tak bisa
mengelak. Kakek menjadi sebutanku bagi anak-anak panti asuhan.
"Dari segi
wajah kamu memang cocok jadi kakek-kakek, Put," ledek Hengky yang biasanya
menjadi temanku pergi ke panti.
"Akh …
wajahmu lebih cocok mirip kakek-kakek, Ky," aku membela diri.
"Ya sudah.
Happy saja, Put," Hengky sumringah.
Gelar kakek yang
kuterima memberi warna baru dalam hidupku. Entah karena beban moral atau rasa
kasihan aku berusaha menghadirkan diriku ibarat kakek dengan cucunya. Rasa
tanggungjawab tiba-tiba muncul dalam diriku bagi anak-anak panti. Jadwal
internet di asrama yang biasa kuisi dengan berchatting ria dengan para sahabat
di dunia maya, kini kupergunakan mencari banyak cerita. Cerita-cerita itu
kusampaikan kepada anak-anak panti di kala aku mengunjungi mereka.
Tindakan yang
kulakukan membuat anak-anak semakin dekat kepadaku. Malah bukan aku lagi yang
bercerita. Anak-anak yang bercerita banyak tentang dirinya kepadaku. Erna yang
pertama kali bercerita kepadaku. Dia hidup sebatang kara. Ayah dan ibunya
meninggal dalam peristiwa kecelakaan. Seorang ibu yang kebetulan berada dekat
kampung Erna, lalu mengantar dia ke panti asuhan.
Setelah Erna ada
Lisa yang bercerita tentang dirinya. Lisa tahu ayah dan ibunya masih hidup.
Hanya, dia tidak tahu keberadaan mereka. Lisa hanya tahu bahwa kehadirannya
tidak pernah diharapkan orangtuanya. Lisa lahir dari hasil hubungan terlarang.
Orangtuanya lalu mencampakkannya dekat tong sampah. Dia beruntung bisa hidup
karena ditemukan seorang bapak yang kebetulan lewat tempat itu. Bapak itu lalu
menyerahkan Lisa ke pastoran. Pastorlah yang mengantar Lisa ke panti asuhan.
Bonti ikut
berkisah kepadaku. Dia mengenal ibunya, tapi tak mengenal ayahnya. Ketika lahir
ke dunia Bonti dititipkan ibunya pada neneknya. Sang ibu memang pernah beberapa
kali mengirimkan kebutuhannya. Tetapi sesudah sang nenek meninggal dunia,
ibunya hilang entah kemana. Bonti ditinggal sendirian.
Tetangganyalah
yang akhirnya mengantarkan Bonti ke panti asuhan.
Cerita Melan
paling menyentuh hatiku. Dia berkisah baru-baru ini bertemu dengan ayahnya.
Selama ini ayahnya memang menitipkan Melan di panti asuhan. Waktu itu Melan
masih berumur tiga tahun. Melan bertemu dengan sang ayah, saat mengikuti
prosesi penguburan seorang suster. Setelah berpuluh tahun, Melan bertemu dengan
ayahnya di kuburan. Pertemuan itu berlangsung sebentar saja. Tetapi sebelum
pergi ayahnya memperkenalkan seorang anak yang berusia lebih muda darinya.
Ternyata anak lelaki itu adalah adik kandung Melan. Melan baru tahu hari itu
bahwa ia memiliki adik. Di atas nisan suster kedua kakak beradik itu bersalaman
dan melepas rindu.
Jika anak-anak
bercerita tentang dirinya, aku mendengarkan mereka dengan penuh perhatian.
Sikapku itu membuat anak-anak semakin terbuka. Terkadang mereka malah meminjam
bahuku. Mereka menangis sesudah bercerita. Tetapi aku tetap berusaha menjaga
setiap kisah dari anak-anak itu. Aku tak pernah bercerita tentang kehidupan
seorang anak kepada anak yang lain.
"Itulah
realita kehidupan, Put. Ada sepasang suami-isteri mendambakan kehadiran seorang
anak, namun keinginan mereka belum dikabulkan oleh Tuhan. Ada sepasang
suami-isteri yang dikarunia anak, tetapi tidak merawat dan membesarkannya. Dan,
Tuhan sekarang mempercayakan anak-anak itu sama kamu, Put.
Jangan
sia-siakan kesempatan ini. Hanya satu permintaanku, Put. Kamu jangan pernah
memperlihatkan respon sedih atau prihatin di hadapan mereka. Anak-anak biasanya
cepat merespon situasi seperti itu. Nanti mereka malah berpikir telah
menyusahkanmu. Berusahalah selalu tersenyum dan ceria kepada mereka. Senyum dan
keceriaanmu itu sangat berarti bagi anak-anak itu, Put," Hengky memberi
pencerahan bagiku.
"Makasih,
Ky. Aku pasti akan berusaha berbuat sebaik mungkin terhadap mereka,"
kataku dengan yakin di hadapan Hengky.
Komentar
Posting Komentar