Kepala-kepala Botak
Bulan
tak lagi bergelayut manja pada sang malam. Pun bintang yang ditutupi awan
kelam. Sepi. Hanya kunang-kunang yang berkerlap-kerlip menemani Pak Thomas.
Tiga jam sudah ia menghabiskan waktu di tengah taman. Tetapi tak ada yang diperbuatnya.
Udara semakin dingin. Lampu-lampu
kamar yang tadinya bernyala, mulai mati satu – persatu. Gigi Pak Thomas
gemeretak. Kulitnya tak mampu lagi berdamai dengan angin malam. Akhirnya, rokok
yang sedari tadi mati di jari tangannya disulut kembali. Asap yang masuk ke
rongga dada menghangatkan tubuhnya.
Sebatang rokok itu menemani Pak
Thomas mengenang kembali kehidupannya 20 tahun silam. Kala itu ia hanya seorang
tukang bakso. Sementara istrinya, Irene bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Hidup begitu sulit. Mereka sering harus gali lubang tutup lubang memenuhi
kebutuhan hidup.
Perubahan terjadi sesudah kelahiran
Abidin, putra ketiga mereka. Anak yang dilahirkan dengan operasi Caesar itu
mendatangkan rahmat bagi keluarga Pak Thomas. Lima hari sesudah kelahirannya,
Pak Thomas secara mengejutkan dipilih warga sekitar mengemban tugas sebagai
Kepala Desa.
Keberuntungan itu merubah pikiran
Pak Thomas dan istrinya. Awalnya putra ketiganya itu diberi nama Abidin saja.
Namun sesudah pengangkatan Pak Thomas sebagai Kepala Desa, mereka menambahkan
nama Gratia yang berarti rahmat.
Lengkapnya nama putra ketiganya itu Abidin Gratia.
Menjabat sebagai Kepala Desa awalnya
begitu sulit bagi Pak Thomas. Maklum, Pak Thomas terpilih sebagai Kepala Desa,
karena penduduk melihat pemberian dirinya yang tanpa pamrih. Pak Thomas selalu
terlibat dalam gotong royong dan rajin mengunjungi warga yang mengalami
kemalangan. Tetapi ia tidak pernah ikut organisasi dan terlibat dalam
kepengurusan desa. Pak Thomas baru paham segala urusan-urusan yang harus
diselesaikannya berkat Pak Farid. Dia pernah menjabat sebagai Kepala Desa
sebelum menjadi penduduk di desa Pak Thomas.
Tahun berganti tahun, hingga periode
kepemimpinan Pak Thomas selama enam tahun sebagai Kepala Desa telah berakhir.
Pujian pun terlontar dari penduduk atas pekerjaan dan kejujurannya. Pada
periode kepemimpinan Pak Thomas, seluruh penduduk desa tahu keadaan keuangan.
Pak Thomas selalu transparan melaporkan keuangan kepada penduduk. Keluhan
selama ini atas lambatnya pengurusan KTP dan bantuan yang tidak diberikan
kepada orang yang tepat terselesaikan pada masa jabatan Pak Thomas.
Kejujuran Pak Thomas akhirnya
mengangkatnya ke posisi yang lebih tinggi dalam pemerintahan. Dia terpilih
sebagai Bupati. “Saya menang Pak Farid,” Pak Thomas memeluk sosok yang banyak
memberikan inspirasi baginya.
Tidak
sekedar itu, Pak Farid pula yang menganjurkan Pak Thomas untuk mengambil kuliah
jarak jauh. Dia yakin Pak Thomas akan mengemban jabatan lebih dari sekedar
Kepala Desa. Keyakinan itu terbukti. Gelar Sarjana Pak Thomas memantapkan
posisinya.
“Apa
saya bilang, Pak. Pola pikir orang-orang sekarang sudah berubah. Masyarakat
butuh pemimpin yang jujur. Kejujuran itu ada pada diri Bapak. Jangan pernah
sia-siakan dan mengkhianati kepercayaan itu, Pak,” Pak Farid menepuk pundak Pak
Thomas.
***
Rumah dinas berukuran tiga kali
lipat dari rumah Pak Thomas sebelumnya menjadi kediaman mereka yang baru,
sesudah ia dilantik. Istana mini. Abiding menamai rumah itu. ad ataman
berhiaskan bunga dengan kolam ikan Koi di tengah-tengahnya. Kejenuhan pastilah
hilang bila berada di taman itu.
Tak hanya rumah. Sepeda motor yang
biasanya menjadi kendaraan Pak Thomas dalam menjalankan tugas dinasnya, kini
berganti menjadi mobil dengan merk Avanza. Meski hidup telah berubah, Pak
Thomas tetap mengingat tugas-tugasnya.
“Saya memperoleh jabatan ini karena
anda semua. Jadi, pantaslah saya terjun dalam pembangunan daerah kita,” terang
Pak Thomas saat masyarakat melarangnya ikut menggali parit untuk menghindari
genangan air di jalan raya pada saat turun hujan.
Bukan sekali, dua kali saja Pak
Thomas terlibat dalam hal-hal yang menurut masyarakat Pak Thomas tak perlu
ambil bagian di dalamnya. Pernah selama sebulan, Pak Thomas setiap hari
menyempatkan dirinya menyirami bibit pohon yang baru ditanam. Aktivitas itu
terhenti, karena masyarakat beramai-ramai mengambil alih tugas itu. Hasilnya
hampir 100 % bibit pohon itu tumbuh dengan baik. Pak Thomas juga pernah datang
ke desa untuk ikut memanen padi.
“Pak
Thomas bukanlah seorang pembual,” terlontar pujian dari seorang penduduk.
Pujian itu memang beralasan, mengingat pemberian diri Pak Thomas. Tambah lagi
bila dibandingkan dengan para pemimpin yang lupa akan diri dan tugasnya sesudah
duduk di kursi panas itu. Mereka hanya menebalkan kantong mereka. Untung tidak
ada kantung Kanggurunya. Kalau tidak???
Pemberian
diri dan kejujuran Pak Thomas terhadap tugasnya, mengantarkan Pak Thomas meraih
penghargaan dari pemerintah pusat. Kekaguman dan penghormatan masyarakat
semakin bertambah. Ibarat seorang raja Pak Thomas ditandu begitu keluar dari
mobil oleh delapan pemuda berbadan kekar. Masyarakat sepakat merayakan
keberhasilan Pak Thomas di lapangan bola. Dua hari yang lalu tepatnya peristiwa
itu berlangsung.
Kini
jam menunjukkan pukul 02.00 WIB. Kunang-kunang tidak ada lagi yang
berseliweran. Lampu-lampu di rumah Pak Thomas hampir padam semua. Tetapi Pak
Thomas tidak dapat memejamkan mata. Beban pikiran membuat kepala Pak Thomas
pusing. Mungkin hanya obat puyer 16, iklan yang dibawakan Doyok dapat
menyembuhkannya.
Pak
Thomas akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Pinggang yang sakit membuatnya
berjalan bungkuk, seperti kakek berusia 80-an tahun. Dia kini melangkah menuju
kamarnya dengan diliputi kegalauan dalam dirinya. Menjelang berakhirnya masa
jabatan Pak Thomas, keutamaannya diuji oleh pihak-pihak tertentu.
Siang
tadi dua orang pemuda menemuinya. Tanpa tanggung-tanggung mereka menawarkan
uang sebanyak 10 Milyar. Jumlah itu sangat besar. Uang itu bisa menghidupi Pak
Thomas sampai tujuh turunan. Syarat mendapatkan uang itu gampang saja. Pak
Thomas hanya menandatangani surat-surat tanah bagian sebelah barat untuk
dirambah menjadi sebuah perusahaan. Kedua pemuda itu akan datang tiga hari
kemudian. Uang 10 Milyar itu mereka tinggalkan di rumah Pak Thomas.
Pak
Thomas dilema. Hatinya terbagi dua. Sebelah menjadi setan yang mencoba
membawanya masuk ke dalam jeratan dosa. Sebelah lagi seorang malaikat
berpakaian putih berusaha menyelamatkannya.
“Pak
Thomas, jabatanmu akan segera berakhir. Kamu pantas mendapatkan uang itu. Usaha
dan pemberian dirimu kepada masyarakat sudah begitu banyak. Seandainya kamu
menerima uang itu, pastilah mereka tidak curiga kamu korupsi. Terimalah saja
uang itu dan tandatangani surat-surat itu. Ingat, uang itu bisa membuat kamu
dan istrimu ongkang-ongkang kaki di rumah,” bujuk setan dengan segala cara.
Malaikat
tidak banyak bicara. Dia hanya meletakkan tangan di dada sebelah kanan,
mengingatkan Pak Thomas akan kesucian jiwa. Bingung memilih yang mana, Pak
Thomas merebahkan tubuhnya yang sudah lelah.
***
Untuk
pertama kalinya suasana yang dilalui Pak Thomas berubah. Semua orang berkepala
botak seperti biksu. Mentari yang terik membuat kepala-kepala botak itu
berkilauan seperti emas. Mereka berbaris membawa jerigen untuk mendapatkan air
dari mobil tangki.
“Sejak
kapan kita kekurangan air seperti ini, Pak Farid?” Pak Thomas bertanya kepada
rekannya itu. Tetapi Pak Farid hanya diam. Dia tetap fokus pada setir mobil
yang dikemudikannya.
Tidak
memperoleh jawaban, Pak Thomas menyuruh Pak Farid menghentikan mobil. Dia lalu
keluar menemui orang-orang yang berkepala botak itu. Dengan seksama
diperhatikannya mereka. Dan, betapa terkejutnya Pak Thomas begitu mengetahui
bahwa semuanya perempuan. Ekspresi wajah Pak Thomas semakin berubah tatkala ia
mengetahui istri dan putrinya berada dalam jejeran orang-orang itu.
“Mengapa
kalian mencukur rambut sampai botak?” Pak Thomas menarik tangan istri dan
putrinya.
“Semua
ini karena kamu. Kami tidak bisa keramas lagi. Kamu menjual hutan sumber air
rakyat.” Jari telunjuk istri dan putri Pak Thomas mengarah kepada Pak Thomas.
Perempuan-perempuan lain kemudian beramai-ramai mendekati Pak Thomas, sehingga
ia berlari ketakutan dan menjerit sekuat-kuatnya.
“Pak
... pak ... Pak, bangun. Ada apa, Pak?” suara istri Pak Thomas menyadarkannya
dari mimpi.
“Akh
... ternyata hanya mimpi,” ucapan syukur terlontar dari mulut Pak Thomas.
“Memang
mimpi apa tadi, Pak?” istri Pak Thomas penasaran.
“Mimpi
buruk dan menakutkan, Bu,” wajah Pak Thomas masih pucat.
“Ya
sudah, sekarang Bapak mandi supaya segar. Sudah pukul 07.00 WIB. Entar nasi
goreng kesukaan Bapak dingin. Ibu baru selesai memasaknya,” suruh istrinya
dengan suara lembut.
Pak
Thomas lalu beranjak dari tempat tidurnya. Sesudah mandi dan merasa segar Pak
Thomas menikmati sarapannya. Di luar dugaan, siang itu dua orang pemuda itu
kembali menemui Pak Thomas di kediamannya. Tanpa berbasa-basi Pak Thomas
langsung mengembalikan uang yang pernah dititipkan kedua pemuda itu. Mereka pun
kecut nyalinya dan pulang dengan tangan hampa.
Komentar
Posting Komentar