Sahabat-sahabat Baruku

           Aku masih bisa merasakan kesejukan kota Pematangsiantar, ketika pertama kali menginjakkan kaki sebagai seorang calon biarawati. Setelah sepuluh tahun kesejukan kota Pematangsiantar tidak kurasakan lagi. Aku justru sering merasa gerah dan keringatan. Seperti yang kualami siang ini. Jubah yang kukenakan basah oleh keringat. Padahal aku mengendarai sepeda motor dari kampus menuju komunitasku.
            Setelah memasukkan sepeda motor ke garasi, aku segera melangkahkan kakiku dengan cepat menuju kamar. Kipas angin segera kunyalakan dengan kecepatan tinggi, untuk mendinginkan badanku. Tetapi belum puas aku menikmati hembusan kipas angin, aku mendengar suara pintu kamarku diketuk-ketuk dari luar. Dengan malas aku beringsut dari tempat duduk untuk membuka pintu.
            “Maaf, saya mengganggu. Saya bisa bicara sebentar dengan Sr. Lousia,” Sr. Paula berkata ramah.
            “Tentu bisa, suster. Di mana kita bicara suster?” kataku dengan nada tergagap-gagap. Aku tidak menyangka suster pimpinanku itu langsung datang ke kamarku. Biasanya ia selalu memberikan selebaran kertas berisi jadwal, apabila aku harus berbicara dengannya.
            “Kita bicara di ruang kerja saya saja, Sr. Louisa,” Sr. Paula melangkahkan kakinya. Setelah aku merapikan jubahku, aku lalu mengikutinya dari belakang.
            “Sr. Louisa, para dewan baru rapat tadi pagi. Kami meminta kesediaan kamu mendampingi para pemulung yang berada di pinggiran kota ini,” Sr. Paula menatapku dengan penuh harapan.
            “Apakah tidak bisa suster yang lain, Sr. Paula?” aku menawarkan pilihan kepada Sr. Paula. Tawaran itu aku ajukan, karena aku yakin akan mengalami kesulitan mendampingi para pemulung. Aku masih harus beradaptasi dengan dunia kampus yang baru kujalani. Seandainya hanya mendampingi para pemulung tidak masalah. Pastilah mendampingi mereka tidak perlu memeras otakku. Berbeda dengan studi yang memang menuntut aku harus berpikir keras dalam memahami diktat-diktat kuliahku. Belum lagi kalau ada dosen yang memberikan tugas tiba-tiba dan menyuruh mengumpulkan tugas itu secepat mungkin. Aku pasti tidak bisa fokus mendampingi para pemulung itu.
            “Kami melihat suster memiliki potensi berkarya di tempat itu,” perkataan pimpinanku membuatku tidak bisa memberikan alasan lagi.
            “Baiklah suster. Aku bersedia.” Aku mengiyakan permintaan kongregasiku.
            Keesokan harinya Sr. Paula menemaniku ke tempat pemulung. Aku terkejut ketika mengetahui pemukiman para pemulung itu di areal tempat pembuangan sampah masyarakat. Baru sebentar saja mencium aroma sampah yang bau, perutku langsung mual. Rasanya seluruh isi perutku ingin keluar semuanya.
            “Buat ini di hidung kamu!” Sr. Paula memberikan sebotol minyak wangi kepadaku. Dengan segera aku membuka penutup botol, lalu mengoles minyak itu di hidungku. Aku bisa sedikit bernafas lega.
            Kami lalu mendekati beberapa pemulung yang sedang mengumpulkan barang-barang bekas yang baru diturunkan dari truk. Sejenak mereka melihat kami, lalu mereka sibuk kembali memasukkan barang-barang bekas itu ke dalam goni.
            “Suster, barangkali lebih baik rencana aku berkarya di tempat ini dibatalkan saja,” kataku sesudah meninggalkan para pemulung itu.
            “Masa kamu menyerah sebelum mencoba,” Sr. Paula menantangku.
            Tidak ada lagi komentar yang aku berikan kepada Sr. Paula. Aku mengawali karyaku dengan mengunjungi para pemulung empat kali dalam sebulan. Respon yang tidak ramah kembali kudapat dari mereka.
            “Apakah adik seperti kebanyakan orang dan lembaga-lembaga yang sekedar basa-basi saja hadir di tempat ini?” seorang wanita berjilbab bertanya kepadaku saat kunjungan keduaku ke tempat pemungutan sampah.
            “Tidak. Saya hadir untuk berbagi suka dan duka bersama bapa, ibu, dan adik-adik yang ada di sini,” kataku sambil tersenyum.
            “Lebih baik adik tidak usah datang kemari. Nanti kulit adik yang putih dan mulus itu jadi jelek,” seorang wanita tambun menyindirku.
            “Tidak apa, Bu. Asal saya bisa bersama kalian,” aku tersenyum kepada wanita itu.
            “Ya sudah. Pokoknya saya sudah memperingatkan adik,” wanita tambun itu berlalu dariku. Dia bersama dengan beberapa wanita lain kemudian berlari mendekati sampah yang baru diturunkan dari truk. Mereka harus berlomba dengan waktu. Begitu sampah diturunkan dari truk, sebuah buldozzer langsung meratakannya.
            Dua bulan aku menerima respon pemulung yang tidak ramah. Tetapi aku tidak memedulikannya. Setiap kali datang, aku menyapa mereka. Tanpa canggung dan merasa jijik, aku ikut serta mencari dan mengumpulkan barang-barang bekas dari tumpukan sampah. Terkadang aku berlari bersama mereka mendekati truk pembawa sampah. Aku tidak peduli jubahku kotor terkena sampah dan aroma sampah yang menyengat di hidung.
            “Terima kasih, nak,” kata seorang wanita setengah baya saat aku membantunya memasukkan botol-botol plastik ke goni. Perbuatan serupa kulakukan kepada para pemulung lain. Melihat niatku yang sungguh mau menggabungkan diri dan bekerja bersama mereka di tempat yang begitu kumuh, mereka menjadi ingin tahu tentangku.
            “Saya seorang suster,” aku memberitahukan identitas diriku. Meski aku selalu mengenakan jubah, para pemulung itu tidak tahu aku suster. Mereka mayoritas berbeda keyakinan denganku.
            “Siapa nama suster,” seorang anak bertanya kepadaku.
            “Panggil saja saya Sr. Louisa,” aku mengelus kepala anak yang bertanya kepadaku.
            “Sr. Louisa ...” gumam beberapa ibu. Akhirnya hari itu aku melihat senyuman mereka yang tulus. Setelah beberapa bulan, mereka menyambut kehadiranku. Aku sungguh bahagia. Usahaku selama ini tidak sia-sia. Satu – persatu para pemulung itu malah menawarkanku untuk datang ke rumahnya. Ternyata aku salah menduga mereka. Para pemulung itu ramah. Situasi kerjalah yang membuat mereka tidak ada waktu untuk menyapa orang yang darang. Jika sedikit saja melalaikan waktu, maka mereka harus siap kehilangan rejeki.
            Semenjak itu jadwal kunjunganku bertambah. Dua kali seminggu, aku hadir bersama para pemulung. Meski lelah sepulang dari kampus, aku tetap semangat menemui mereka.
            “Kamu harus membuat sesuatu yang lebih kepada mereka,” Sr. Paula menantangku kembali. Dia lalu menyampaikan tawaran kongregasi agar membuka CU bagi para pemulung. Usul itu langsung kusampaikan kepada para pemulung. Mereka menyambutnya dengan antusias. Sebanyak 75 persen dari mereka mendaftar menjadi anggota CU. Uang hasil penjualan botot yang biasa langsung habis membeli kebutuhan, kini mereka sisihkan sedikit demi sedikit. Setiap akhir pekan aku mengumpulkan uang simpanan para pemulung.
            “Mudah-mudahan uang ini cukup menguliahkan anakku kelak,” harap seorang ibu sambil memberikan uang simpanannya kepadaku.
            “Kita harap begitu, Bu,” aku memandang wajah ibu itu. Sinar matanya yang penuh harapan mengingatkanku akan Sabda Yesus, “Aku berkata kepadamu, ketika kamu melakukan hal-hal itu untuk salah seorang saudara-Ku yang hina ini, kamu telah melakukannya untuk-Ku.”
         “Terima kasih atas tugas perutusan ini, suster. Sekarang aku memiliki banyak sahabat baru dalam hidupku,” aku bercerita kepada Sr. Paula mengenai pengalamanku mendampingi para pemulung.
        “Saya senang mendengarnya. Saya berharap kamu tetap semangat dan setia dalam mendampingi mereka,” Sr. Paula memegang pundakku.
            “Saya pasti memberikan yang terbaik bagi sahabat-sahabat baruku suster,” kataku dengan wajah ceria.    

                        

Komentar

Postingan Populer