Cara Hidup Orang Kristen Menurut Clemens dari Aleksandria (Buku II dari Paidagogos)


Pengantar
         Kehidupan manusia dipengaruhi oleh dunia sekitarnya. Begitu pula orang Kristen hidup dengan pengaruh dunia sekitarnya. Tetapi tidak menjadi kemutlakan bahwa orang Kristen menjadi seperti orang-orang yang ada di sekitarnya. Orang-orang Kristen dapat menentukan cara hidupnya, entah itu baik atau buruk.
       Dalam pandangan Clemens dari Aleksandria cara hidup itu begitu penting. Hal itu tampak dari ajarannya kepada orang-orang yang menjadi Kristen. Ajarannya itu tertuang dalam salah satu tulisannya berjudul Paidagogos. Paidagogos bertemakan ajakan moral dan etis bagi manusia dalam kehidupannya sehari-hari.

Riwayat Hidup Clemens dari Aleksandria
Clemens dari Aleksandria adalah seorang Bapa Gereja dari Gereja Timur pada periode Gereja Lama. Dia dilahirkan kira-kira pada pertengahan abad ke-2, mungkin di Athena. Orangtuanya adalah kafir. Sebagaimana kebanyakan orang pada masa itu berkelana untuk belajar dari berbagai guru, Clemens juga melakukan pengembaraan dalam mencari pengetahuan yang berakhir di Aleksandria. Di sini ia belajar kepada Pantaenus, pemimpin sekolah kateketik di Aleksandria, kira-kira pada tahun 180. Clemens tinggal di sini selama 20 tahun. Dia kemudian menjadi guru di sekolah ini dan setelah Pantaenus meninggal, ia menggantikannya.
Pada tahun 202 pecahlah pertempuran di Aleksandria dalam masa pemerintahan Kaisar Septimius Severus. Clemens lalu melarikan diri dari Aleksandria. Sesudah itu tidak ada lagi didengar tentang Clemens, kecuali dalam surat Aleksandria, uskup Yerusalem. Surat pertama berasal dari tahun 211 yang menyebutkan Clemens sebagai seorang presbiter yang mulia atau yang terberkati. Surat yang kedua berasal dari tahun 215 yang mengatakan sebagai berikut, “Clemens yang kudus, salah seorang dari Bapa-bapa Gereja yang mulia yang telah pergi dari antara kita.” Oleh karena itu, Clemens meninggal sekitar tahun 211-215.
Clemens menghasilkan beberapa tulisan penting yang ditulisnya pada waktu ia mengajar dan menjadi pemimpin sekolah kateketik di Aleksandria. Tulisannya yang terpenting adalah Protreptikos (Nasihat-nasihat kepada Orang Yunani) Paidagogos (Pengajar) dan Stromateis (Aneka Ragam).
Protreptikos berbentuk suatu pendahuluan yang mengajak pembaca untuk mendengarkan, bukan mendengarkan legenda- legenda mistis tentang dewa-dewi, tetapi "lagu baru" tentang "Logos", awal dari segala sesuatu dan pencipta dunia. Dia mengungkapkan apa yang dia sebut kebodohan penyembahan berhala dan misteri-misteri penyembahan berhala, praktik-praktik homoseks orang-orang Yunani yang memalukan, dan horor korban persembahan kepada berhala. Dia berpendapat bahwa para filsuf dan penyair Yunani hanya menebak kebenaran, sedangkan para nabi memberikan jalan langsung pada keselamatan, dan kini Logos yang ilahi menyatakan secara langsung akan membangkitkan semua hal baik dalam jiwa seseorang dan membimbingnya menuju kekekalan.
Setelah hal-hal tersebut di atas menjadi dasar pengetahuan kebenaran yang sejati, dalam Paidagogos, Clemens membangun etika kristen yang lebih sistematis. Dia berbicara tentang "paidagogos" atau tutor sebagai Logos ilahi yang menuntun orang-orang Kristen bahkan dalam kegiatan sehari-hari yang paling biasa sekalipun, seperti makan dan tidur. Seperti Stoic Epictetus, Clemens percaya bahwa kebajikan yang sejati menunjukkan dirinya sendiri melalui bukti-bukti eksternal yang muncul dalam cara hidup orang-orang percaya yang alami, sederhana, dan moderat.
Paidagogos ditujukan kepada mereka yang sudah menjadi Kristen. Mereka harus menjadi model yang benar. Buku I berbicara tentang pendidik, prinsip pendidikan, tujuan pendidikan, cinta pendidik di hadapan manusia, universalitas pendidikan, ganjaran dan hukuman. Buku II dan III memuat aturan-aturan seperti makan, minum, duduk, tidur, hidup komuniter, seksualitas, perawatan tubuh, pemilikan barang, dan lain-lain.
Stromateis berbicara lebih jauh lagi. Yang dituju adalah kesempurnaan hidup orang-orang Kristen dari awal hingga pengetahuan yang utuh. Stromateis berusaha, berdasarkan Alkitab dan tradisi, memberikan penjelasan iman Kristen yang bisa menjawab segala tuntutan orang-orang terpelajar dan memimpin para pelajar ke dalam realita terdalam keyakinannya. Clemens memberinya judul Stromateis karena karya ini berhubungan dengan berbagai macam hal. Dia bermaksud membuat satu buku saja sebenarnya, tetapi pada kenyataannya setidaknya ada tujuh buku yang dihasilkan, itu pun tidak semua subjek dipaparkan. Tidak adanya hal-hal tertentu yang telah dijanjikan telah mendorong para ahli untuk mempertanyakan apakah dia menulis buku kedelapan, dan berbagai usaha telah dilakukan untuk mengetahuinya, termasuk ditelitinya potongan-potongan fakta yang ada bersama jenazahnya. Kutipan-kutipan yang disangka buku kedelapan pada naskah Stromata abad ke-11 bukanlah bagian dari Hypotyposes yang ditulis oleh Clemens.
Selain trilogi luar biasa itu, satu-satunya karya lengkap yang dirawat adalah traktat yang berjudul "Who is the Rich Man that Shall Be Saved?" (Siapakah Orang Kaya yang Akan Diselamatkan?). Traktat ini didasarkan pada Markus 10:17-31 dan memberikan prinsip bahwa bukan kekayaan mereka yang akan membuat mereka mendapatkan penghukuman, namun penyalahgunaan kekayaan itu. Ada juga beberapa penggalan traktat tentang "Passover" (perayaan Paskah kaum Yahudi), yang menentang posisi Quartodecimanism Melito of Sardis dan hanya satu bagian dari "Ecclesiastical Canon" yang menentang kaum Judaizer. Beberapa karya lain hanya diketahui judulnya saja.
Pentingnya Clemens dari Aleksandria dalam sejarah gereja adalah keberanian dan keberhasilannya dalam mengadakan hubungan yang baik antara iman Kristen dengan filsafat. Pada masa ini orang takut untuk menghubungkan (memperdamaikan) antara kedua hal itu, karena akan membawa pada kesesatan. Usaha tersebut didasarkan pada pertimbangannya, bahwa jikalau gereja menutup diri terhadap kebudayaan dan filsafat Yunani, maka gereja akan tertutup bagi orang-orang yang berpendidikan. Oleh karena itu, dalam pandangan teologinya ia memakai konsep-konsep filsafat Yunani, sekalipun ia tidak berhasil sepenuhnya.
Clemens berpendapat bahwa di dalam filsafat Yunani terdapat kebenaran-kebenaran. Para filsuf Yunani telah belajar dari hikmat ilahi yang terpancar dari gambar Allah yang terdapat dalam diri mereka. Sebenarnya, demikian Clemens, para filsuf telah mencuri hikmat itu dari Musa, menjiplak dari Perjanjian Lama. Oleh karena itu, bagi orang Yunani filsafat dapat mempersiapkan mereka untuk percaya kepada Injil. Filsafat mempunyai kedudukan yang sama dengan Perjanjian Lama bagi orang Yahudi.
Dalam hubungan dengan Gnostik, Clemens berpendapat bahwa iman dan gnosis tidak ada pertentangan. Iman diperlukan bagi setiap orang Kristen. Namun di samping iman masih ada hal yang lebih tinggi, yaitu gnosis (pengetahuan). Gnosis itu diperlukan oleh orang Kristen yang dapat berpikir lebih mendalam. Gnosis (pengetahuan) tidak menghilangkan iman, tetapi menerangi iman. Iman adalah permulaan pengetahuan dan karena itu iman harus berkembang hingga menjadi pengetahuan (gnosis). Oleh karena itu, tanpa iman tidak mungkin gnosis itu ada. Dengan demikian telah berjasa untuk melepaskan gereja dari ketertutupannya terhadap kalangan intelektual pada masa itu.

Sebuah Pandangan Singkat tetapi Lengkap tentang Cara Hidup Orang Kristen
            Orang-orang Kristen boleh menggunakan emas dan pakaian yang lembut. Tetapi mereka harus bisa mengatasi keinginan diri memiliki emas, pakaian, batu mulia, dan berbagai gaun yang berlebihan. Barang-barang itu dijauhkan dari kehidupan orang-orang Kristen karena bermuara pada kenikmatan duniawi, kesenangan, dan selera setan. Maka hendaknya orang-orang Kristen menjalankan kehidupannya sesuai dengan yang tertulis dalam 1 Petrus 2:12: “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.”

1. Pakaian
Dalam pengajaran Clemens disampaikan bahwa pakaian yang digunakan pria dan perempuan itu sederhana dan berwarna putih. Pemilihan warna putih didasarkan pada makna warna ini. Putih menggambarkan kesucian, kemurnian, kebenaran, dan kesederhanaan. Bahkan Musa menganjurkan untuk mengenakan pakaian putih, karena kalau berwarna berhubungan dengan penyakit kusta dan bintik-bintik seperti warna ular.
Aturan ini tidak mengikat. Clemens tetap memberikan keringanan bagi para pria dan wanita untuk mengenakan pakaian lain. Pakaian itu dikenakan sesuai dengan usia, orang, angka, alam, dan kegiatan. Mereka juga dapat mengenakan pakaian tebal, apabila musim dingin tiba. Pakaian-pakaian yang dikenakan ini hendaknya sopan dan jauh dari kemewahan. Namun demikian dikatakan bahwa orang-orang Kristen terutama hendaknya mengenakan Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan jangan merawat tubuh untuk memuaskan keinginan daging (Rm 13:14).

2. Anting-anting
Anting-anting emas melukiskan keelokan dan kecantikan perempuan dan sering dipakai oleh perempuan Timur. Clemens menggunakan anting-anting sebagai sebuah perumpamaan sebagaimana terdapat dalam Amsal 11:22, “Seperti anting-anting emas di jungur babi, demikianlah perempuan cantik yang tidak susila.” Hal ini mau menyampaikan kepada perempuan bahwa mereka jangan berpikir emas membuat mereka cantik. Jika pikiran itu ada dalam pikiran perempuan, maka mereka lebih rendah dari emas itu. Dia berkubang dalam lumpur hawa nafsu akan kemewahan, yang mencemarkan pikiran dan hati nurani, dan walaupun dimandikan akan kembali lagi ke situ.
Jika kecantikan tidak dikawal oleh kebajikan, maka kebajikan menjadi rentan oleh karena kecantikan. Hal ini dapat diterapkan pada semua karunia dan kelebihan jasmani lainnya. Amat disayangkan jika orang memiliki karunia dan kelebihan jasmani tetapi tidak memiliki kebijaksanaan untuk menggunakannya dengan baik.

3. Rambut
Berkaitan dengan rambut dikatakan kepada kita biarlah kepala manusia itu dicukur, kecuali mereka memiliki rambut keriting. Tetapi hendaknya dagu kita memiliki rambut (jenggot). Kalaupun harus mencukur jenggot kita tidak bisa mencukur seluruhnya, karena itu pemandangan yang memalukan dan tercela. Demikian kata pemazmur seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya; wajah bersinar karena pengurapan Tuhan.
Mengenai kumis dikatakan bahwa kumis yang telah panjang dapat dicukur. Tetapi bukan dengan pisau cukur, melainkan dengan sepasang gunting. Bentuk kumis harus bulat supaya tidak dikotori makanan pada saat makan. Lebih lanjut tentang rambut kepala dikatakan bahwa pria tidak boleh menghabiskan rambut kepalanya (botak). Kepala pria yang botak menunjukkan bahwa pria itu tidak bertanggungjawab kepada tempurung kepalanya yang dapat dengan mudah cedera atau luka dan membuat kepala harus merasakan dingn dan panas, karena tidak adanya rambut.
Bagi perempuan dianjurkan rambut cukup hanya sebatas leher panjangnya dan diikat dengan pengikat yang sederhana. Agar tampak indah rambut perempuan harus diberi gizi. Tetapi rambut perempuan hendaknya jangan dianyam, karena mereka akan kelihatan jelek. Perempuan juga dilarang menggunakan rambut palsu untuk menaungi kepalanya, karena tindakan itu bersifat asusila. Mereka menutupi tengkorak kepalanya dengan benda mati. Tindakan ini sama saja dengan menghina kepala sendiri. Selain itu, rambut palsu tidak diperkenankan digunakan perempuan karena pada saat menerima berkat dari pastor rambutlah yang dipegang pastor. Jika rambut pria dan perempuan telah beruban tidak diperkenankan untuk mencelupnya dengan pewarna rambut agar kembali seperti semula. Rambut yang beruban bukan untuk disembunyikan, tetapi sebagai tanda penghormatan dari orang-orang muda.

4. Berjalan
Dalam berjalan kita jangan tergesa-gesa, melainkan santai atau tenang. Namun, bukan berarti bahwa kita berjalan lambat. Ketika berjalan hendaknya keangkuhan dijauhkan dari kita. Kita tidak boleh membuang muka dari orang-orang yang berpapasan dengan kita, seolah-olah kita sedang berjalan di atas panggung seperti model. Kita harus bertegur - sapa satu sama lain.
Clemens juga mengatakan bahwa seorang pria sejati harus memiliki sifat feminim yang terlihat di wajahnya, atau bagian lain dari tubuhnya. Tetapi sifat itu jangan menodai dirinya sebagai pria, yang ditemukan dalam gerakan atau kebiasaan. Bagi hamba-hamba sebagaimana dikatakan dalam 1 Petrus 2: 18, mereka harus tunduk dengan penuh ketakutan, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada tuan yang bengis. Dengan demikian mereka menunjukkan dirinya sebagai orang yang dipenuhi Roh. Mereka semua menjadi satu pikiran, memiliki kasih sayang satu sama lain; cinta sebagai saudara-saudara, rendah hati, dan sebagainya.

5. Model bagi Perempuan
Perempuan Kristen harus bisa menjadi model bagi perempuan lainnya. Wajah mereka harus bersih, alis matanya tertata rapi, atau kelopak matanya terbuka. Leher tidak dipanjang-panjangkan dan bagian-bagian yang menggantung dari tubuh terlihat seolah-olah digantung dengan baik. Pikiran perempuan Kristen juga harus tajam dan mengingat apa yang telah diucapkan dengan benar. Sikap dan gerakannya harus sopan dan menunjukkan ketegasan. Meskipun demikian, sangat diawaskan dari perempuan Kristen keterpikatan atau ketertarikan mereka dengan berbagai macam parfum, emas, pakaian berbahan wol, dan yang berasal dari toko-toko lain.

6. Hiburan dan Rekan
Clemens mengawaskan pria untuk tidak menghabiskan waktunya di tukang cukur dan barberbicara omong kosong; mengganggu atau menggoda para wanita yang duduk di dekatnya, dan berbicara sesuatu yang tidak benar (fitnah) hanya untuk menjadikannya sebagai bahan tertawaan. Permainan dadu juga harus dilarang untuk mengejar keuntungan terhadap mereka yang bermain. Hal seperti itu memboroskan harta dan membuat mereka yang bermain terpisah dari kebenaran (tidak jujur).
Dia juga mengatakan sebagaimana juga dinyatakan Musa bahwa orang-orang yang memanggil Tuhan seharusnya tidak berbaur dengan orang-orang jahat hanya untuk memperoleh kesenangan ragawi dengan memakan makanan yang tidak murni dan bertindak cabul. Lebih lanjut ia mengatakan jangan makan burung rajawali, ering janggut dan elang (Im 11:13-14; Ul 14:12). Mereka juga seharusnya tidak dekat dengan pria yang memenuhi nafkah dari hasil pencurian. Orang-orang Kristen justru seharusnya melakukan tindakan yang benar untuk menguduskan dirinya dalam perjalanan ke dunia yang akan datang.

7. Tontonan Umum (Publik)
Tontonan umum harus dijauhkan dari orang-orang Kristen. Tontonan umum yang dimaksudkan di sini seperti pacuan kuda, teater, olahraga, dan hal-hal yang bersifat mesum. Orang-orang Kristen dijauhkan dari tontonan ini, karena tontonan ini mengandung nilai-nilai kejahatan dan kesenangan belaka. Dengan melihat pacuan kuda dan olahraga, mereka bisa terlibat dalam perjudian. Sementara itu tontonan yang bersifat mesum memunculkan keinginan daging dan mata untuk melirik orang lain.
Bagi Clemens bila orang mengatakan melihat ini sebatas hobi saja, ia justru mengatakan bahwa kota yang telah membuka tempat bagi tontonan yang telah disebutkan di atas adalah suatu tindakan yang tidak bijak. Baginya tidak masuk akal tidak ada keluar uang dan tidak ada kerusuhan yang ditimbulkan oleh siaran olahraga dan lain-lain.

8. Beriman dalam Hidup Sehari-hari
Pada poin ini Clemens memulai pernyataannya dengan berbagai pertanyaan. Tetapi dikatakan kita tidak semua berfilsafat. Maka, apakah kita tidak semua ikut setelah kehidupan? Apa yang kamu katakan? Bagaimana Anda percaya? Bagaimana, berdoa, apakah engkau mengasihi Allah dan sesama Anda, jika Anda tidak berfilsafat? Dan bagaimana Anda mencintai diri sendiri, jika Anda tidak mencintai kehidupan? Dikatakan, saya belum belajar huruf; tetapi jika Anda belum belajar membaca, Anda tidak bisa memaafkan diri sendiri dalam perkara pendengaran, karena tidak diajarkan.
Dengan pernyataan ini Clemens mau menunjukkan bahwa filsafat membantu umat beriman untuk bertindak secara kritis. Sikap kritis berarti tidak menerima sesuatu begitu saja hanya berdasarkan otoritas, mencermati asumsi-asumsi dalam setiap pernyataan yang dapat dipersoalkan (termasuk pernyaataan sendiri), menolak ikut arus pendapat umur, dan mencari penjelasan dan alasan-alasan bagi hal-hal yang oleh orang lain dianggap sudah jelas.
Dan dengan cara ini orang-orang yang ada di pasar dan toko berfilsafat. Karena itu jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan (Kel 20:7). Mereka yang melakukan tindakan bertentangan dengan ini dianggap tamak, pendusta, dan orang-orang munafik.

9. Pergi ke Gereja
Perempuan dan pria yang pergi ke gereja hendaknya berpakaian sopan, langkah natural (tidak tergesa-gesa), tidak berbicara (hening), memiliki cinta yang tulus iklas, kemurnian dalam tubuh, dan suci hatinya. Dengan sikap seperti itu mereka layak untuk berdoa kepada Allah.
Lebih lanjut bagi perempuan, hendaknya mereka menutupi tubuhnya, kecuali ia kebetulan berada di rumah. Untuk itu gaya berpakaian adalah serius, dan menjaga dari siapa saja yang melihat. Perempuan tidak akan pernah jatuh dengan tertutupi tubuhnya dan wajahnya dengan selendang, dan ia tidak akan mengajak yang lain jatuh ke dalam dosa, karena tidak menutupi wajahnya.

10. Keluar dari Gereja
Clemens merasa heran melihat sikap umat beriman. Ketika ia berada dalam gereja segala bentuk kesalehan, kelemahlembutan, dan penuh kasih hadir dalam dirinya. Tetapi selepas gereja semua itu menjadi hilang. Umat beriman begitu gampang mengubah gaya dan perilaku sesuai dengan tempat dan orang-orang yang ada bersama dengan mereka. Segala pewartaan tentang Tuhan mereka tinggalkan dalam gereja.
Di luar gereja topeng mereka terbuka. Mereka menghibur dirinya dengan permainan-permainan yang tidak menunjukkan mereka bertuhan, penuh asmara, dengan bermain seruling, berdansa,  mabuk-mabukkan, dan segala kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat. Mereka bernyanyi dengan saling bersahut-sahutan. Mereka berkata satu sama lain mari kita makan, karena besok kita mati. Tetapi mati yang dimaksud di sini bukan mati sebenarnya, melainkan dalam arti mati bagi Allah; biarlah orang mati mengubur orang mati (Mat 8:22).
Rasul Paulus sangat tegas mengingatkan orang-orang seperti ini. Dia mengatakan janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Kor 6:9-10).

11. Kasih dan Ciuman Kudus
Jika kita dipanggil untuk Kerajaan Allah, mari kita mengasihi Allah dan sesama. Kasih itu ditunjukkan dengan menghormati satu sama lain. Tetapi tetap ada jemaat yang saling memberikan ciuman satu sama lain untuk menunjukkan kasih di antara mereka. Ciuman yang dilakukan mereka bukanlah sesuatu yang memalukan, perbuatan busuk yang mencurigakan dan ulah setan. Rasul menyebutnya sebagai ciuman Kudus (Rm 16:16).
Ketika orang-orang Kristen diuji, kita menampakkan kasih sayang yang berasal dari hati dan menutup mulut, serta bersikap lembut. Sebab ada ciuman yang tidak kudus, penuh dengan racun, dan pemalsuan kesucian. Hal ini diibaratkan dengan laba-laba. Dengan menyentuh mulutnya (menggigit) dapat membuat manusia kesakitan. Dan sering ciuman ini menyuntikkan racun hawa nafsu. Ciuman itu bukanlah cinta, karena Cinta berarti kasih Allah. Dan ini adalah kasih Allah, kata Yohanes, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya (1 Yoh 5:3) bukan menyerang satu sama lain pada mulut.
 Perintah Allah tidak berat. Orang-orang Kristen diharapkan memiliki buah-buah kasih karunia. Mereka mengasihi sesamanya sebagaimana diperintahkan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang Kristen adalah garam dunia (Mat 5:13). Selain itu diawaskan dari kehidupan orang-orang Kristen, agar pagi-pagi sekali tidak memberi selamat dengan suara nyaring, karena hal itu akan dianggap sebagai kutuk baginya (Ams 27:14). Pada pagi hari hendaknya yang pertama kita puji adalah Allah, bukan manusia.

12. Lirikan Mata
Clemens menuturkan di atas semua itu, tampaknya tepat bahwa kita harus berpaling dari mata wanita. Karena dosa tidak hanya dalam sentuhan, tetapi dalam penglihatan; dan terutama mereka yang sudah terbiasa melirik wanita harus menghindarinya. Maka biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka (Ams 4:25). Untuk sementara itu adalah mungkin bagi orang yang tetap teguh; namun harus ada sikap hati-hati terhadap kejatuhan karena nafsu bisa muncul tiba-tiba. Untuk itu tidak cukup untuk menjadi suci murni; tetapi mereka harus tetap bertekun, berada di luar jangkauan celaan, menutup semua dasar kecurigaan, untuk penyempurnaan kesucian; sehingga kita mungkin tidak hanya setia, tapi layak mendapat kepercayaan.
Untuk ini kita juga harus memerhatikan larangan seperti yang dikatakan para rasul, bahwa ada orang yang dapat mencela kita; kita memikirkan yang baik tidak hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia (2 Kor 8:20-21). Kitab Suci juga mengatakan agar kita memalingkan mata dari seorang wanita yang anggun, dan jangan memandang kecantikan yang bukan milik kita (Sir 9:8). Dan jika kita membutuhkan alasan, lebih lanjut diberitahukan kepada kita banyak yang sudah disesatkan keelokan perempuan, dan syahwat dinyalakannya bagaikan api (Sir 9:8); nafsu yang muncul dari api yang kita sebut cinta, mengarah ke dalam api yang tidak akan pernah berhenti dengan konsekuensi dosa.

Penutup
Pengajaran Clemens dari Aleksandria tentang cara hidup orang Kristen berkaitan dengan realita kehidupan masa sekarang ini. Para wanita diajak untuk berpakaian yang layak dan pantas ke Gereja, bukan mengumbar aurat dengan pakaiannya yang serba seksi. Jika mereka berpakaian sopan, maka lirikan mata pria tidak tertuju kepadanya dan nafsu para pria tetap terjaga. Ajakan dalam berpakaian juga tertuju kepada para pria yang hanya mengenakan celana pendek seperti mau pergi rekreasi atau ke swalayan pada saat ke Gereja. Berkaitan dengan kita para religius, ajaran Clemens juga mengajak kita untuk mengenakan jubah dalam Gereja.
Ajaran Clemens juga menyentuh realita sekarang dalam penggunaan perhiasan. Clemens mengajak para wanita untuk tidak menggunakan perhiasan secara berlebihan sebagaimana ditunjukkan oleh para ibu sekarang ini. Untuk menghadiri perayaan Ekaristi saja di gereja mereka menggunakan perhiasannya secara berlebihan. Penggunaan perhiasan ini bukan lagi untuk mempercantik diri, melainkan mau menunjukkan kemewahan akan harta benda yang mereka miliki.
Semua ajaran Clemens ini menjadi tantangan bagi kaum religius. Tugas kita adalah mengingatkan para umat beriman agar memiliki perilaku dan penampilan diri yang wajar, terutama di gereja. Tentu untuk dapat melaksanakan semua ini harus dimulai dari kita. Tanpa kita sadari kita termasuk orang-orang yang diawaskan oleh Clemens. Tampilan diri kita sering justru tidak menjadi panutan bagi umat beriman. Rambut kita dibentuk dengan berbagai macam gaya, malah kita membotakinya sampai licin. Kita juga ikut dengan arus zaman.
Ketika musim batu akik, kita berlomba-lomba memilikinya. Tidak cukup hanya memiliki warna yang berbeda, tetapi juga memiliki batu akik dengan ukuran yang berbeda. Benda-benda itu bukan hanya menjadi koleksi pribadi, tetapi kita perlihatkan kepada banyak orang. Malah ada imam yang menggunakannya pada saat memimpin perayaan Ekaristi, sehingga perhatian umat terbagi dua: mengikuti perayaan Ekaristi dan memerhatikan batu akik sang pastor yang besar seperti dimiliki para dukun.
Jika semua itu dapat kita atasi, mari kita mengajarkan sikap dan penampilan diri bagi umat beriman. Kita berharap dengan pengajaran itu segala sikap dan penampilan diri umat yang satu tidak lagi mengusik perhatian umat yang lain dan menimbulkan kecemburuan dalam diri mereka.

Sumber Bacaan 
Quasten, Johannes. Patrology Vol II. Notre Dame: Christian Classic, 1983.
Schaff, Philip (ed.) The Ante Nicene Fathers Vol II. Grend Rapids ML: Christian Classic Ethereale Library, 1893.
Spanneut, M. “Clement of Alexandria” dalam New Catholic Encyclopedia Vol III Can to Col. USA: The Catholic University of America, 1967.
Wellem, F. D.  Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.


Komentar

Postingan Populer