Doa menurut Santo Agustinus

Sumber: paguskura.blogspot.com

Pendahuluan
Mengapa kita harus berdoa? Alasan mendasar apa yang membuat kita berdoa? Dua pertanyaan inilah yang muncul dalam membahas pokok pikiran Agustinus tentang doa. Jika disoroti secara seksama, sering terjadi bahwa dalam pengalaman sehari-hari manusia berdoa, ketika berhadapan dengan situasi-situasi yang mencekam. Bahkan, situasi ini terjadi di kalangan kaum religius, biarawan dan biarawati. Mereka bisa tinggal lama di suatu tempat, entah itu ruang doa/kapel, Gereja, atau kamar untuk menyampaikan doa-doanya.
Tidak salah jika manusia berdoa ketika berhadapan dengan situasi yang mencekam. Namun, alangkah lebih baik manusia menyampaikan segala peristiwa yang terjadi dalam hidupnya melalui doa kepada Allah. Berkaitan dengan ini Agustinus berulang-ulang merujuk Surat Paulus kepada Jemaat di Roma: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia” (Rom 11:36). Dalam kutipan ini Agustinus mau menekankan bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu yang menjangkau dan mengetahui segalanya. Dengan demikian manusia pantas tergantung kepada Allah. Ketergantungan ini bukan mau menunjukkan manusia lemah/tidak mampu berbuat apa-apa, melainkan mau menunjukkan ketergantungan akan Allah harus dipahami sebagai mencintai Allah.

Riwayat Hidup St. Agustinus
Aurelius Agustinus lahir pada tanggal 13 November 354 di Thagaste, sebuah kota kecil di daerah Numidia yang termasuk propinsi Afrika, sekarang terletak di Aljazair Barat. Orangtua Agustinus bernama Patricius dan Monika. Patricius termasuk warga kota yang terkemuka, namun tidak begitu berada. Sebelum terdaftar sebagai seorang katekumen pada masa akhir hidupnya dalam Gereja Kristen, ia menganut agama tradisional. Sebaliknya, Monika yang lahir dari sebuah keluarga Kristen adalah seorang Kristen yang setia dan mengingingkan agar Agustinus mengikuti imannya.[1]
Keinginan Monika agar Agustinus mengikuti imannya, justru jauh dari harapannya. Agustinus sama sekali tidak tertarik menjadi seorang Kristen. Pada usia 17 tahun, ia malah mengambil seorang gadis setempat menjadi gundiknya. Selanjutnya ia terpengaruh aliran Manikeisme, yakni sebuah kelompok religius yang didasarkan pada filsafat gnostiknya Mani.[2] Selama sembilan tahun lebih ia menjadi penganut aliran itu, meski hanya selaku auditor, pendengar, bukan sebagai perpectus, orang yang hidupnya sudah sempurna dari sudut pandang aliran tersebut.[3]
Perubahan hidup Agustinus terjadi sesudah ia kembali ke Milan pada bulan Juli 386. Pertemuannya dengan uskup Ambrosius membuat Agustinus mengevaluasi dirinya. Evaluasi Agustinus atas dirinya dipengaruhi oleh kotbah-kotbah uskup Ambrosius yang kala itu dikenal sebagai ahli retorika seperti Agustinus, namun Ambrosius lebih tua dan berpengalaman. Di samping itu Agustinus mulai menggeluti karangan filsuf-filsuf pendiri aliran Neo-Platonisme dan membaca Kitab Suci. Aktivitas yang dilakukan Agustinus membuat ia semakin dekat dengan iman Kristen.
Pada malam Paskah tahun 387, akhirnya Agustinus bersama beberapa sahabatnya menerima Baptisan Kudus. Agustinus kemudian menerima tahbisan imam dari uskup Valerius pada tahun 391. Sesudah uskup Valerius wafat, Agustinus kemudian diangkat sebagai penggantinya menjadi uskup pada tahun 395. Meskipun Agustinus sangat menaruh perhatian kepada berbagai permasalahan lokal Gereja Afrika Utara, namun ia tetap memberikan perhatian kepada penjelasan, eksposisi, dan pembelaan iman Kristen terhadap berbagai penentang dari luar maupun para pembangkang dari dalam Gereja. Ada berbagai tulisan Agustinus yang membahas aneka persoalan utama dalam pemikiran Kristen, termasuk berbagai doktrin tentang Trinitas, Gereja, dan rahmat. Salah satu tulisan Agustinus yang paling terkenal adalah Confessiones (Pengakuan). Karangannya ini ditulis dalam periode antara 398-400 dan mengambil bentuk suatu renungan panjang mengenai Tuhan, yang diselipi dengan doa.[4]

Apa itu Doa?
Ada berbagai pengertian tentang doa. Pada dasarnya doa berarti mengangkat hati, mengarahkan hati kepada Tuhan, menyatakan diri anak Allah, mengakui Allah sebagai Bapa. Doa adalah kata cinta seorang anak kepada Bapanya. Maka doa dapat timbul dari kesusahan hati yang bingung, tetapi juga dari kegembiraan jiwa yang menuju ke masa depan yang bahagia. Doa tidak membutuhkan banyak kata, tidak terikat pada waktu dan tempat tertentu, tidak menuntut sikap badan atau gerak - gerik khusus, meskipun dapat didukung olehnya.[5] Dalam tradisi Yahudi - Kristen, doa merupakan relasi langsung antara manusia dan pribadi Allah yang menguasai kita. Berdoa merupakan aktivitas di mana relasi antara manusia dan Allah dibentuk. Bagi kita, Allah adalah asal mula, alasan yang mendasar dan tujuan terakhir, bukan hanya dari diri sendiri, tetapi segala sesuatu yang hidup.[6]
Dalam Katekismus Gereja Katolik dikatakan bahwa doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau suatu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik. Kerendahan hati adalah dasar doa, karena kita tidak tahu bagaimana sebenarnya berdoa (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati. Mengenai ini, Agustinus berkata bahwa di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis. Selain itu doa juga dilihat sebagai perjanjian. Hal yang mau disampaikan bahwa doa Kristen adalah hubungan perjanjian antara Allah dan manusia di dalam Kristus. Dia adalah tindakan Allah dan tindakan manusia. Dia berasal dari Roh Kudus dan dari kita. Dalam persatuan dengan kehendak manusiawi Putra Allah terjelma; doa mengarahkan diri sepenuhnya kepada Bapa. Doa juga diartikan sebagai persekutuan. Sebagaimana termuat dalam Perjanjian Baru, doa adalah hubungan yang hidup anak-anak Allah dengan Bapanya yang tidak terhingga baiknya, bersama Putra-Nya, Yesus Kristus dan dengan Roh Kudus.[7]
Doa dapat juga berarti pintu gerbang untuk berkomunikasi dengan Allah. Dengan berdoa seseorang tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri dan oleh kekuatannya sendiri. Dia tahu ada Allah tempat dia bercakap-cakap. Orang yang berdoa semakin memercayakan diri kepada Allah. Maka, usaha untuk berdoa setiap hari adalah bagian dari kehidupan seorang Kristen.[8]
Bagi Agustinus doa lebih sebagai pembicaraan dalam hati atau dialog kepada Allah. Hal ini mensyaratkan bahwa hati kita terbuka atas kehadiran Allah dengan keutamaan kasih Allah yang diberikan kepada hati kita melalui Roh Kudus (Rm 5:5). Pembicaraan seperti ini didasarkan pada kenyataan bahwa Allah telah memberikan diri-Nya sendiri ke hati kita. Dengan kata lain, bahwa Allah sendiri mengajar kita untuk berdoa. Dia berinisiatif untuk berdialog. Suara-Nya yang sangat mesra menggapai hati kita. Orang dapat menyampaikan pesan kepada Allah, namun Allah yang berbicara kepada kita dan kita telah menerimanya dalam hati.[9]

Yesus sebagai Tokoh Pendoa
Yesus merupakan suri teladan doa bagi semua orang beriman. Hal itu sudah tampak dalam diri-Nya pada usia 12 tahun, saat Ia menyatakan kepada Maria dan Yusuf bahwa Ia harus berada di dalam rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Hubungan Yesus dengan Allah sebagai Bapa-Nya menentukan seluruh hidup-Nya dan terungkap dalam doa-doa-Nya, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, bahwa semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25).
Semasa hidup-Nya di dunia, Yesus berdoa dengan bahasa manusia, mengikuti tradisi doa bangsa-Nya, di dalam Sinagoga di Nazaret dan di dalam kenisah, Bait Allah. Dalam Kitab Suci dikatakan bahwa betapapun Yesus sibuk mewartakan sabda Allah dan melayani orang-orang, Ia selalu menemukan kesempatan untuk naik ke atas bukit dan berdoa seorang diri (Mat 14:23). Seluruh peristiwa penting dalam hidup Yesus memang selalu disertai dengan doa: pembaptisan-Nya (Luk 3:21), panggilan para rasul-Nya (Luk 9:18), dan terutama sengsara dan wafat-Nya (Mat 26:36).[10]
Yesus juga menunjukkan betapa dalamnya doa seorang Anak kepada Bapa-Nya, “Ya Bapa, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk 22:42). Doa dan pemberian diri-Nya menjadi satu dan menyatakan betapa dalam dan tak terbatasnya penyerahan diri-Nya kepada Allah. Dalam doa Yesus mengajarkan pentingnya pertobatan hati, yaitu berdamai dengan sesama sebelum mengajukan persembahan kepada Tuhan, mencintai musuh, berdoa bagi mereka yang bersalah kepada kita, berdoa di tempat tersembunyi, tidak mengatakan kata-kata kosong, memberi pengampunan kepada mereka yang bersalah kepada kita, kemurnian hati dan mencari Kerajaan Allah di atas segala sesuatu.[11]

Posisi Selama Berdoa
Orang-orang Kristen mengungkapkan hidup mereka di hadapan Allah dengan bahasa tubuh. Mereka merendahkan diri di hadapan Allah. Mereka menyatukan tangan atau merentangkan tangan, ketika berdoa. Mereka berlutut di hadapan Allah. Mereka mendengarkan Injil sambil berdiri. Mereka bermeditasi dengan duduk.[12]
Aneka bentuk posisi selama berdoa yang biasa dalam doa liturgis akrab dengan Agustinus. Ketika orang beriman berdoa, mereka menghadap ke timur, di mana matahari terbit. Bagi Agustinus berdiri menghadap ke matahari merupakan simbol penghormatan kita kepada Allah, yang melampaui seluruh kosmos. Berdiri tegak ketika berdoa merupakan tanda kebangkitan. Posisi berdoa dengan menepuk dada bagi Agustinus merupakan pengakuan atas kesalahan. Kita menyesali dosa-dosa yang tersembunyi dalam hati. Kita berdoa, tidak hanya dalam tindakan eksternal, tetapi juga di kedalaman hati yang tetap tersembunyi bagi orang lain. Di hadirat Allah, dosa-dosa itu tidak dapat disembunyikan. Agustinus menyebut menepuk dada: “menghukum dosa-dosanya yang tersembunyi dengan tanda eksternal.”[13]
Dengan berlutut, seseorang akan membuat dirinya kecil di hadirat Allah. Dia akan mengakui ketergantungannya pada rahmat Allah. Agustinus berkata ketika berlutut persembahkanlah hatimu, darah batinmu, kepada Allah. Menurut Agustinus mata juga memainkan peran penting dalam berdoa, karena biasanya mulut mengatakan bahasa mata yang menginterpretasikan kerinduan yang hadir dalam doa.[14]
Berdoa kepada Allah dengan mengangkat tangan juga merupakan posisi yang dianjurkan Agustinus dalam berdoa. Tangan yang terangkat berkaitan dengan tangan Yesus yang terentang di salib. Dengan melakukan tindakan itu kita diajak merentangkan tangan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik terhadap sesama. Lebih lanjut Agustinus mengatakan bahwa ketika seseorang berdoa dengan merentangkan tangan, ia mengakui salib. Hal ini merupakan kebiasaan di Afrika Utara yang dilakukan untuk menghormati simbol yang menjadi bahan cemoohan dan memproklamasikan simbol kemegahan yang dianggap hina.
Bagi Agustinus bentuk-bentuk eksternal merupakan sikap-sikap yang memerlihatkan sesuatu sebagai keinginan dan orientasi batiniah kita. Allah tidak membutuhkan tanda-tanda, tetapi bagi kita sendiri, tanda-tanda itu rangsangan untuk berdoa dan meminta bantuan lebih rendah hati dan lebih bersemangat. Agustinus berkata, aku tidak tahu bagaimana bentuk-bentuk eksternal ini menyebabkan emosi kita naik, meski menjadikan afeksi hati berkembang, afeksi mendahului yang eksternal. Jika seseorang tidak dapat menerima posisi-posisi ini, jangan katakan bahwa ia tidak dapat berdoa dalam hati dan berbaring tidak berdaya di hadapan Allah.
Agustinus mengungkapkan dalam berdoa dengan posisi-posisi yang telah disebutkan di atas, tidak selalu mudah untuk konsentrasi. Gangguan-gangguan berseliweran dalam doa kita. Jika gangguan-gangguan itu muncul, kita dapat dapat kehilangan keinginan berdoa dan menjadi lalai. Semua keinginan menghilang dari doa kita. Berhadapan dengan situasi itu, Agustinus menyarankan agar kita memohon kepada Allah agar dibimbing untuk bertekun dalam berdoa.[15]

Syarat-syarat Doa
          Seorang Kristen yang berdoa akan melangkah keluar dari dirinya dan masuk ke dalam sikap iman kepercayaan pada satu Allah dan Tuhan. Pada saat yang sama, dia menempatkan seluruh harapannya kepada Allah: Allah akan mendengarkan, mengerti, menerima dan menyempurnakannya.[16]
       Dalam berdoa syarat pertama yang harus dipenuhi seorang Kristen, yakni iman. Iman memainkan dua peran dalam berdoa. Di satu sisi membawa kita ke hadirat Allah. Di sisi lain relasi antara iman doa menjadi lebih jelas, apabila orang beranggapan bahwa iman melebihi asumsi sejumlah kebenaran. Iman mencakup banyak tindakan yang berbeda, seperti memberikan diri sendiri, mengenal diri sendiri untuk dilindungi dan diperhatikan, menjadi sadar diterima oleh sesama.[17]
           Iman ini mutlak bagi Yesus. Hal itu tampak pada orang-orang yang datang kepada Yesus untuk melakukan penyembuhan dan karya-karya agung. Mereka datang dengan penuh iman ke hadapan Yesus. Bahkan karena iman seseorang, Yesus dapat melakukan penyembuhan terhadap orang yang tidak beriman, sebagaimana terjadi pada seorang perwira yang diceritakan dalam Mat 8:5 dan orang lumpuh dalam Mat 9:2-8. Hukum iman ini dipahami dengan sangat baik oleh para rasul, yang meneruskannya kepada orang-orang Kristen awal.[18]
       Syarat doa kedua yang harus dimiliki orang beriman, yakni pengampunan. Sikap ini harus dimiliki seorang yang beriman, karena kerahiman Allah tidak mungkin dapat meresap dalam diri kita tanpa lebih dahulu mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Sebagaimana tubuh Kristus, demikian pula cinta tidak dapat dibagi-bagi. Kita tidak dapat mencintai Allah yang tidak kita lihat, kalau kita tidak mencintai saudara dan saudari yang kita lihat. Jika hati kita menolak mengampuni saudara dan saudari kita, hati kita menutup diri dan kekerasannya tidak dapat ditembus oleh cinta Allah yang penuh kerahiman.[19]
          Dalam Mrk 11:25 dikatakan: “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di surga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” Pengampunan adalah syarat dasar segala doa, yang terus menerus ditekankan Yesus. Dengan mengampuni, orang beriman menunjukkan kasihnya kepada Allah dan sesama. Kalau kita tidak mengampuni, maka kita tidak diampuni.[20] Agustinus menegaskan pernyataan ini dengan menjadikan doa Yesus di atas salib bagi para musuhnya sebagai contoh: “Ya, Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).
          Berdoa bagi para musuh memang tidak mudah. Malahan yang terjadi sebaliknya bahwa banyak orang mendoakan para musuhnya agar menderita. Dengan mendoakan musuh agar menderita, orang merugikan dirinya sendirinya dan kehilangan bagiannya di surga. Mendoakan kehancuran dan kematian musuh merupakan doa yang jahat. Jika kita membenci sesama dan para musuh, sebenarnya kita sendiri yang jahat. Oleh karena itu, Agustinus menyerukan agar orang beriman mengampuni sesamanya dan mendoakan mereka, agar semua orang memperoleh keselamatan. Apabila kita melakukannya, kita berarti bekerja sama dengan Allah.[21]

Aneka bentuk Doa: Doa yang Terpusat kepada Allah
Yesus mengajarkan kepada kita agar berdoa kepada Allah. Doa yang berkenan kepada Allah adalah doa Yesus kepada Bapa-Nya. Di samping itu, Injil menyampaikan kepada kita ajaran Yesus yang jelas mengenai doa.[22] Agustinus sendiri mengetahui banyak tentang doa dari Kitab Suci. Beberapa doa yang menjadi tekanan Agustinus, yakni doa pujian, doa syukur dan doa permohonan. Semua doa itu berpedoman pada doa yang diajarkan Yesus Kristus kepada para rasul-Nya, yakni Doa Bapa Kami.

Doa Pujian
Doa pujian merupakan bentuk doa yang paling agung untuk Agutinus: “Memuji Allah merupakan pekerjaan manusia yang paling agung”.[23] Dalam doa pujian ini terungkap bahwa kita berdoa tidak mulai dari diri kita sendiri, tetapi dari Bapa. Kita berdoa tidak mulai dari mengungkapkan kebutuhan dan kepentingan kita sendiri, melainkan kerajaan-Nya.[24]
Ada berbagai bentuk doa pujian dalam pandangan Agustinus, yakni bersembah sujud kepada Allah, memuji Allah, memuji dan mencintai, memuji dan hidup, Allah memuji Diri-Nya sendiri, memberkati, menghormati, memuliakan, mengagungkan, meninggikan, menyatakan keagungan Allah, bersorak-sorai dan bersukaria, bernyanyi dan nyanyian baru. Bagi Agustinus ada tiga cara memuji Allah, yakni dengan suara hati, dengan hati kita, dan dengan hidup kita. Alasan lain memuji Allah juga dapat kita temukan dalam penciptaan, dalam kenyataan hidup, dalam tindakan keselamatan Allah bagi orang-orang Yahudi terpilih, dalam kebenaran yang menghasilkan rahmat Yesus Kristus. Pada prinsipnya kita harus memuji Allah dalam segala sesuatu. Memuji Allah juga dikaitkan dengan iman, harapan, dan kasih. Alasannya bahwa kita memuji Allah dengan kekayaan hati. Dalam hati kita membawa iman, harapan, dan kasih di mana Allah memberikan diri-Nya kepada kita. Sebagai persembahan pujian, kita menanggapi sabda Allah.
Menurut Agustinus pujian kepada Allah tidak hanya dengan bersukacita, sebagai puncak kegembiraan, tetapi juga dengan mengakui dosa dan kesalahan, sebagai puncak kesedihan dan penolakan. Pendosa yang tidak mempunyai harapan pengampunan atas dosa-dosanya tetap terkurung dalam keputusasaannya. Tetapi siapa pun yang mengakui dosa-dosanya di hadirat Allah mengakui Dia sebagai Allah dan Tuhan. Selain itu, Agutinus juga mengatakan bahwa melalui pujian kita tidak mengagungkan Allah, tetapi kita sendiri diagungkan karenanya. Karena mengenal Allah dan memuji-Nya dengan kagum, kita menjadi lebih besar. Kita tidak menambah sesuatu bagi kemuliaan Allah, tetapi Dia justru menjadikan kita lebih kudus, lebih bahagia, dan lebih pantas: “Pujilah nama-Nya, karena Tuhan baik. Janganlah berpikir bahwa kamu akan sia-sia memuji Dia. Nyanyian-nyanyian pujianmu seperti makanan; lebih banyak kamu memuji, lebih banyak kamu memperolehnya dan lebih menyenangkan Dia yang kamu puji.”
Berdasarkan apa yang disebutkan di atas Agustinus berkata bahwa apabila kita memuji Allah dengan kata-kata, kita dipuji atas nama Allah, dengan sabda-Nya. Kata-kata adalah kata-kata kita yang diterima dari Allah. Kata-kata, di saat yang sama, adalah sabda Allah. Kata-kata berasal dari Dia dan menjadi milik kita. Allah memberi kita kata-kata pujian dan Dia menghendaki kata-kata itu muncul dari kita untuk mencintai-Nya. Dari Dia kata-kata itu muncul demi kepentingan kita dan telah menjadi milik kita. Kita menghasilkan pujian yang dihaturkan kepada Allah. Kita menerimanya kembali, juga dari Dia, ketika dipuji atas nama-Nya. Dengan memuji Allah, kita memuji diri sendiri, ketika kita tidak arogan dan mengakui bahwa semua yang baik berasal dari Dia. Hanya orang sombong yang ingin dipuji demi kepentingan dirinya sendiri.[25]

Doa Syukur dan Doa Permohonan
Bagi Agustinus doa syukur dan doa permohonan saling terkait satu sama lain. Dia berkata: “Bersyukur adalah satu aktivitas; doa permohonan adalah aktivitas lain. Kita bersyukur untuk sesuatu. Kita menghaturkan permohonan agar yang tidak ada menjadi ada.” Kedua doa ini berpusat pada kebaikan dan kemurahan hati Allah. Kita bersyukur karena anugerah-anugerah yang telah kita terima dari Allah. Kita memohon kebaikan Allah untuk memperoleh sesuatu. Namun demikian, ada perbedaan di antara kedua doa ini. Bersyukur merupakan bentuk pujian, karena bersyukur itu mengakui kebaikan dengan cara yang khusus dan menyatakannya secara terbuka. Kita harus bersyukur kepada Allah, mulai dari keseluruhan penciptaan sebagai anugerah Allah bagi kita sampai ke anugerah-anugerah rahmat internal Allah yang menyelamatkan kita. Ucapan syukur kita kepada Allah terwujud dalam kata-kata:
“Engkau telah menjadikan segala sesuatu, menjadi milik-Mu. Syukur kepada-Mu. Engkau telah menjadikan kami melebihi segalanya. Syukur kepada-Mu. Kami adalah gambar dan rupa-Mu. Syukur kepada-Mu. Kami telah berdosa, dicari. Syukur kepada-Mu. Kami telah lalai, tidak ditolak. Syukur kepada-Mu. Ketika kami menghina-Mu, kami tidak dihina. Ketika kami telah melupakan keilahian-Mu dan kehilangan Engkau, Engkau menerima diri-Mu sendiri dalam kemanusiaan kami. Syukur kepada-Mu.”[26]

Berkaitan dengan doa permohonan, dalam Perjanjian Baru kita menemukan pelbagai kata untuk permohonan: memohon, meminta, meminta dengan sangat, menyeru, menjerit, berteriak, dan bergumul dalam doa. Dari semua kata itu yang paling cocok adalah memohon. Dalam doa permohonan terungkap kesadaran akan hubungan kita dengan Allah. Kita adalah makhluk, bukan tuan atas keberadan kita, bukan tujuan kita yang terakhir. Sebagai orang berdosa, kita harus memalingkan diri kepada Allah. Permohonan itu sendiri sudah merupakan langkah berbalik kepada Allah.[27]
Agutinus melihat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, doa permohonan lebih banyak porsinya daripada doa pujian disampaikan orang beriman kepada Allah. Orang beriman berdoa kepada Allah hanya sebatas memohon sesuatu. Berdoa kepada Allah ketika perlu merupakan kesaksian iman yang tidak sempurna. Situasi seperti itu mendorong Agustinus untuk mengajari umatnya bahwa mereka harus tumbuh mulai dari menanyakan hal-hal yang paling biasa untuk memohon kepada Allah. Meski Allah mengenal segala sesuatu, kita harus menghaturkan doa permohonan kepada-Nya dengan tiga alasan. Pertama, sebagai ciptaan-ciptaan yang layak, kita harus menaati Allah dan menghubungkan hal-hal yang bersifat sementara ke kehidupan kekal. Kedua, kita melakukannya dengan memohon agar segalanya dilimpahkan kepada kita. Ketiga, kita melakukannya dengan meminta nasehat yang berkaitan dengan apa yang harus dilakukannya.
Atas dasar itulah kita memohon kepada Allah sesuatu yang lebih besar. Kita memohon kepada-Nya hal-hal yang diperlukan hidup ini, karena Allah adalah kekayaan kita yang paling agung. Kehausan akan dia merupakan doa permohonan kita. Bagi Agustinus doa permohonan merupakan latihan merindukan hal-hal spiritual. Hal ini berhubungan dengan sifat doa, sebab doa merupakan aktivitas spiritual. Oleh karena itu, doa permohonan harus menyucikan keinginan-keinginan kita, sehingga kehausan akan Allah tetap bergaung dalam diri kita.[28]

Doa Bapa Kami
Yesus merupakan pembina doa dalam Gereja. Hal itu tampak dari doa yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya, yakni Doa Bapa Kami. Bagi Agustinus Doa Bapa Kami merupakan pedoman doa. Doa Bapa Kami merupakan cermin di mana kita dapat melihat kehidupan orang benar yang hidup dari iman, meski tidak tanpa dosa dan tidak benar sepenuhnya. Dengan mengucapkan Doa Bapa Kami manusia disadarkan atas apa yang dimintanya, bukan untuk memerintah Allah memenuhi permintaan manusia.
Secara khusus Agustinus membuat interpretasi atas Doa Bapa Kami. Bapa kami yang ada di surga - inilah tindakan memuji Allah yang kepada-Nya kita mengarahkan doa. Pada saat yang sama, kita juga memohon disposisi Allah yang menguntungkan. Rahmat inilah yang kita miliki dari Allah sebagai Bapa, yang berkehendak menerima kita sebagai anak-anak-Nya. Sebutan Bapa juga mengubah relasi kita dengan orang lain. Karena kita semua mempunyai Bapa yang sama, maka kita semua bersaudara satu sama lain: tuan dan budak, penguasa dan tentara, orang kaya dan orang miskin, tidak ada lagi perbedaan antara orang-orang yang mulia dan rendah. Sementara kata “surga” tidak menunjuk pada tempat, tetapi mengartikan Allah berdiam di tempat yang suci dan benar. Kita adalah Bait Allah (1 Kor 3:17), dengan hidup benar, kita mengundang Allah berdiam dalam hati kita.
Doa Dimuliakanlah nama-Mu menunjukkan kenyataan bahwa nama Allah tidak menguntungkan Allah, tetapi kita. Dengan mendoakannya kita menginginkan diri sendiri baik. Kita memohon agar Allah menjadikan diri kita suci. Sementara doa Datanglah Kerajaan-Mu menunjukkan bahwa kita berdoa agar dapat menjadi bagian dari Kerajaan-Nya. Jika kita berbicara tentang Kerajaan Allah, janganlah lupa bahwa hal ini masih dibicarakan dan dibangun di atas bumi. Hal ini berarti bahwa kita berdoa agar pantas berkuasa dengan Allah dalam Kerajaan-Nya, hidup dengan cara yang baru, tetapi setelah kehidupan ini, dengan cara yang lebih mendalam.
Selain itu, doa Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga mau mengungkapkan bahwa dengan berdoa, kita menaati perintah Allah, tidak seperti budak, tetapi dalam kebebasan dan mencintai ketaatan, dengan bekerja sesuai maksud manusia, sebagaimana para melakukannya di surga. Di samping itu kita memohon agar semua orang bertobat dan melayani Allah dengan taat. Dengan melakukan kehendak Allah, semua orang hidup menurut Roh. Doa Berikanlah kami rejeki pada hari ini mau mengungkapkan bahwa kita berdoa untuk segala sesuatu yang dibutuhkan dalam hidup di atas bumi, sebab makanan merupakan ringkasan dari semua kebutuhan hidup. Kita berdoa atas makanan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk semua orang. Makanan dapat berarti sakramen Tubuh Kristus, yang kita terima sehari-hari. Makanan juga berarti makanan spiritual, yang kita butuhkan sehari-hari. Karena Ekaristi tidak dirayakan setiap hari, Agustinus menginterpretasikan setiap hari kita mengadakan permenungan dan implementasi atas perintah-perintah Allah, Sabda Allah menjadi makanan kita sehari-hari. Hal itu kita peroleh dengan membaca Kitab Suci dan himne-himne.
Doa Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kami mau menunjuk pada semua dosa kita, sehingga kita memohon pengampunan Allah. Meski kita telah dibaptis, kita tetap bersalah karena tidak dapat menjaga diri sendiri bebas dari dosa, khususnya dosa ringan. Dalam memohon pengampunan dari dosa kepada Tuhan, kita tidak cukup hanya berbicara dengan bibir saja, tetapi juga melibatkan hati dengan penuh kejujuran. Kita juga dituntut pada saat mengungkapkan doa ini supaya mengampuni para musuh kita. Tuntutan ini memang terasa berat, tetapi Agustinus menunjuk Stefanus sebagai contoh, yang mengampuni orang-orang yang menganiaya dirinya.
Doa Janganlah masukkan kami ke dalam percobaan - Dalam doa ini disampaikan bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah mengarahkan kita ke dalam pencobaan, tetapi mengizinkan kita belajar mengetahui diri sendiri. Mengarahkan masuk ke dalam pencobaan tidak sama dengan dicobai. Dicobai itu sesuatu yang tidak terelakkan. Sebab tanpa dicobai, tidak seorang pun dapat memperoleh keutamaan. Sedangkan doa Bebaskan kami dari yang jahat mengungkapkan bahwa dalam berdoa kita bermohon kepada Allah agar diselamatkan dari kejahatan yang telah dilakukan. Doa ini juga diarahkan ke masa depan, karena kita tidak hidup dalam kebahagiaan kekal dengan mempertahankan kejahatan, tetapi berharap dan berdoa agar terhindar dari semua kejahatan di masa depan.
Dari ketujuh doa di atas, ketiga doa yang pertama berbicara tentang keabadian; kesucian, kerajaan, dan kehendak Allah itu kekal. Keempat doa lainnya menyinggung kehidupan ini. Dengan demikian, Doa Bapa Kami sungguh menjadi norma bagi doa-doa kita.[29]

Metode Berdoa St. Agustinus
            Bagi Agustinus berdoa memerlukan suatu metode. Selama hidupnya Agustinus membuat suatu metode bagi dirinya untuk berdoa. Metode yang diciptakan Agustinus bertujuan menciptakan semangat doa dan inspirasi fundamental yang membuat doa dapat dilakukan serta berjalan seiring. Ada empat metode doa Agustinus, yakni naik ke hadirat Allah, Meditasi, Dari Meditasi ke Kontemplasi, dan Ekstase.
            Metode doa yang pertama, naik ke hadirat Allah. Pada poin ini Agutinus menyampaikan bahwa ada empat langkah kita naik ke hadirat Allah, yaitu: 1) Keutamaan: doa mendukung pelaksanaan keutamaan-keutamaan moral yang menyucikan kita. Secara khusus kekuatan dan kelayakan menyebabkan bertumbuhnya kebajikan kepada sesama. 2) Ketenangan: ketenangan berkaitan dengan keseimbangan batiniah kita yang membuat orang Kristen mempunyai cita-cita dalam iman, harapan, dan kasih. Doa merupakan langkah menuju keadilan sempurna dan memberikan kekuatan untuk melanjutkannya. 3) Masuk ke dalam terang: doa mengarahkan kita ke kontemplasi tentang revelasi kebenaran. 4) Tinggal dalam terang: doa kita ditransformasikan ke dalam kontemplasi. Sukacita dan kesatuan dengan Allah merupakan ciri tahap ini.
              Dengan mengikuti keempat langkah ini kita menyadari bahwa berdoa merupakan peninggian hati kepada Allah secara afektif. Kata afektif menunjuk pada keterlibatan daripada aktivitas pikiran. Hal ini harus dilakukan dengan hati dan perasaan orang yang beredar dalam hati. Agar dapat naik ke hadirat Allah, Agustinus selalu memulainya dengan memikirkan penciptaan dan membaca Kitab Suci baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Selanjutnya Agustinus mengemukakan teks-teks yang signifikan bagi dirinya sendiri yang merupakan norma dan ujian bagi hidupnya sendiri.[30]
            Metode doa yang kedua, yakni meditasi. Meditasi dilakukan tidak dengan pikiran, tetapi dengan mulut. Meditasi bukan kegian refleksi atau pemikiran, melainkan mengulang-ulang suatu kalimat dengan suara atau secara mental saja. Jika dalam Mzm 119 pendoa mengatakan bahwa ia akan terus-menerus merenungkan hukum Allah dan merasakan bahwa hukum ini terasa manis di mulut, lebih manis daripada madu (ay. 103), ia tidak hanya berbicara mengenai buah refleksi atas hukum, melainkan juga pengulangan terus-menerus kata hukum itu.[31]
            Agustinus menggambarkan meditasi secara konkret, dengan ungkapan “mengunyah-unyah” seperti hewan mengunyah-unyah makanannya agar menjadi halus, sehingga dapat diserap lebih cepat. Menurutnya perlulah untuk mengunyah-unyah sabda Allah secara spiritual. Proses penyerapan sabda Allah itu terjadi dalam empat tahap: mendengarkan dengan perhatian, menyimpan dalam ingatan, mengunyah-unyah dengan refleksi, melakukan dalam tindakan-tindakan.
            Dalam meditasi juga diperlukan gerakan doa yang berisi tiga pokok, yaitu: mengarah ke dunia eksternal, dari dunia eksternal ke hatinya sendiri dan dari hatinya sendiri kepada Allah. Agutinus menggambarkan proses ini karena ada banyak hal yang mengelilingi dan mengganggu kita. Dia juga ingin menampakkan suatu proses dari yang tampak ke yang tidak tampak, dari yang dapat mati ke yang kekal, dari yang sementara ke yang kekal, dari dunia kepada Allah.
Adapun manfaat bermeditasi ini adalah orang menemukan dirinya sendiri dan menyucikan serta membentuk kembali hidupnya, baik dengan berjuang melawan kejahatan dalam dirinya maupun dengan menyimpan keutamaan-keutamaan yang mengarah pada kasih Allah dan sesamanya. Tahap terakhir tertuju pada ketenangan semua, kesatuan pasti dengan Allah. Kesatuan merupakan anugerah Allah. Oleh karena itu, memuliakan kebaikan dan keagungan Allah merupakan puncak doa.[32]
Metode doa yang ketiga, yakni dari meditasi ke kontemplasi. Pada metode yang kedua telah diterangkan arti dari meditasi. Lalu apa arti kontemplasi? Kontemplasi adalah memandang Yesus dengan penuh iman. Pandangan penuh perhatian kepada Yesus ini adalah penyangkalan “aku”, karena pandangan Yesus membersihkan hati. Cahaya wajah-Nya menyinari mata hati kita dan membiarkan kita melihat segala-galanya dalam sinar kebenaran dan belas kasihan-Nya terhadap semua orang. Kontemplasi memandang misteri kehidupan Kristus dan dengan demikian memperoleh pengertian batin mengenai Tuhan, untuk mencintainya lebih sungguh dan mengikuti-Nya dengan lebih baik lagi.[33]
Agustinus menerangkan metode doa yang ketiga ini dengan mengatakan bahwa tidak hanya sampai akhir kita membutuhkan rahmat Allah dan bantuan Kristus, tetapi juga dalam ketidakterbatasan-Nya, Allah tetap menguasai kita. Karena kerinduan kita naik, sebagaimana kita naik, kita menyanyikan nyanyian yang membubung ke atas, di mana kita berkata: “Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di surga” (Mzm 123:1).
Kondisi menerima cahaya batin adalah mata kita menjadi suci dan sederhana. Dengan memercayai dan mencintai sesama, kita menyucikan mata agar mampu melihat Allah, karena kasih kita melihat Allah secara lebih luas di atas bumi. Kita membawa sesama dan pergi kepada Allah. Kita tidak mungkin melihat Dia, menjadikan kita maju. Kita percaya kepada-Nya. Sesudah hidup ini tidak ada yang dapat mencegah kita untuk melihat Allah sebagai Allah. Kita akan melihat Dia muka dengan muka (1Kor 13:12). Sekarang kita tetap memercayakan diri pada iman, janji visi, yang memberi kegembiraan; betapa besar kegembiraan itu ketika janji dipenuhi dan Allah memberikan diri-Nya sendiri kepada kita.[34]
Metode doa yang keempat, yakni ekstase. Berkaitan dengan poin ini Agustinus mengetahui dua bentuk ekstase atau kegembiraan spiritual: yang satu alami, yang disebabkan oleh kegelisahan atau kepanikan, dan satunya diberi Allah, yang didasarkan rahmat. Yang kedua menjadi sasaran kepentingan kita. Jika jiwa naik sendiri ke hadirat Allah, jiwa menjauh secara fisik dan lari kepada Allah.
Dalam sejumlah teks dikatakan Agustinus menekankan bahwa Allah menampakkan diri kepada Musa dalam bentuk lahiriah, saat ia mengalami ekstase. Begitu pula dengan Paulus yang mengalami hal serupa dengan Musa. Dia melihat Allah, saat ia mengalami ekstase. Dengan menghormati Musa, di saat yang sama Allah menampakkan diri dan tetap tersembunyi, atau lebih baik: Dia menampakkan diri sebagai yang tersembunyi. Melihat sesuatu, yang berbeda dengan pemahaman keseluruhan sebagai akibat dari apa yang dilihatnya, sehingga tidak ada sesuatu pun yang tetap tersembunyi. Apa yang berlaku bagi Musa berlaku pula bagi Paulus: Paulus melihat Allah, dalam dirinya sendiri, tetapi dengan syarat ini ‘terhadap yang luas roh manusia, yang tidak mengetahui Allah, dapat memahaminya sedikit, bahkan sangat sedikit, dan hanya setelah roh disucikan dari noda duniawi dan diasingkan serta dilepaskan dari keamanan fisik dan material.’ Bagi Paulus yang luas itu dapat tinggal dalam ‘kontemplasi yang tak terkatakan’. Ketika Paulus berkata bahwa ia mendengar kata-kata yang tak dapat diucapkan, makan ditunjukkan bagaimana Allah tak terucapkan.
Pada pengalaman ekstasenya, Agustinus mengatakan bahwa ia telah melihat Allah; bukan hanya percaya, tetapi ia melihat Allah. Lewat pengalaman ini Agustinus menekankan bahwa Allah berdiam dalam kita, kemuliaan Allah mengatasi segala yang diciptakan. Seperti yang aku lihat, hal ini sesuai dengan Kitab Suci. Berbalik kepada diri sendiri jangan diartikann meninggalkan penciptaan. Kita membutuhkan tubuh. Oleh karena itu Agustinus menyatakan untuk naik ke hadirat Allah melalui dunia, melalui tubuh, melalui pengertian, melalui ingatan, untuk menghargainya sesuai dengan tingkatan dan nilainya sendiri. Kasih Allah yang total akan mengatasi segala kerinduan lain, kesatuan terus-menerus dengan Dia, kegembiraan batiniah yang mendalam, keberanian berdoa yang dikombinasikan dengan kerendahan hati.[35]

Penutup
Hidup orang beriman tidak terlepas dari doa. Dalam doa orang beriman menjalin relasi dengan Allah melalui ungkapan perasaan yang kita sampaikan kepada-Nya, entah itu perasaan gembira, syukur, sedih, ingin diperhatikan, ingin didampingi, ingin dituntun, dan sebagainya. Dalam konteks hidup kita sebagai seorang yang terpanggil menjadi religius, biarawan/biarawati secara umum doa yang kita daraskan atau nyanyikan, meski umat beriman dapat juga menggunakannya, adalah offici (doa ibadat harian). Doa ini dianjurkan kepada kita untuk didaraskan atau nyanyikan pada ibadat pagi, ibadat siang, ibadat bacaan, ibadat sore, dan ibadat malam.
Selain doa offici, kita juga dianjurkan untuk melakukan bentuk-bentuk doa lainnya, seperti yang telah dipaparkan di atas. Hanya yang menjadi pertanyaan mampukah kita melakukan aneka bentuk doa, selain doa offici? Pertanyaan ini saya lontarkan karena melihat realita yang ada. Banyak religius, biarawan/biarawati (secara khusus para frater) tidak sanggup setia mengikuti ibadat harian. Bahkan yang memprihatinkan mereka dapat makan dan pergi ke kampus, namun tidak mengikuti ibadat harian. Hal ini menunjukkan seolah-olah makan dan kegiatan kampus paling utama dalam hidupnya. Padahal aktivitas lain harus selalu dibarengi dengan doa. Para frater malah seharusnya mengutamakan doa dalam hidupnya sebagai religius. Meskipun demikian, kita tetap menaruh pengharapan bahwa akan terjadi perubahan. Sebagaimana dikatakan Agustinus bahwa penghalang-penghalang untuk berdoa itu selalu ada. Kita harus menerimanya, tetapi jangan terlarut di dalamnya. Oleh karena itu, kita diharapkan untuk selalu memohonkan rahmat Allah yang mengarahkan kita pada doa.


Daftar Pustaka

Agutinus. Pengakuan-pengakuan (Judul asli: Confessiones). Diterjemahkan oleh Ny. Winarsih Arifin dan Th. van den End. Yogyakarta: Kanisius, 1997.
De Mello, Anthony. Hidup di Hadirat Allah (Judul asli: Contact With God). Diterjemahkan I. Suharyo. Yogyakarta: Kanisius, 1993.
E. McGrath, Albert. Spiritualitas Kristen (Judul asli: Christian Spirituality). Diterjemahkan oleh Penerbit Bina Media Perintis. Medan: Bina Media Perintis, 2007.
Katekismus Gereja Katolik. Diterjemahkan berdasarkan edisi bahasa Jerman oleh Herman Embuiru. Ende Arnoldus, 1998.
Konferensi Waligereja Indonesia. Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius, 1996.
Youcat Indonesia. Diterjemahkan berdasarkan edisi bahasa Jerman oleh Yohanes Dwi Harsanto, et.al. Yogyakarta: Kanisius, 2012.
Seo, Stefanus dan Angela Siallagan. Manusia Makhluk Beratribut. Yogyakarta: Kanisius, 2016.


[1] Agutinus, Pengakuan-pengakuan (Judul asli: Confessiones). Diterjemahkan oleh Ny. Winarsih Arifin dan Th. van den End (Yogyakarta: Kanisius, 1997), hlm. 15-16.
[2] Albert E. McGrath, Spiritualitas Kristen (Judul asli: Christian Spirituality). Diterjemahkan oleh Penerbit Bina Media Perintis (Medan: Bina Media Perintis, 2007), hlm. 221.
[3] Agutinus, Pengakuan-pengakuan ..., hlm. 17.
[4] Albert E. McGrath, Spiritualitas Kristen ..., hlm. 221; Agutinus, Pengakuan-pengakuan ..., hlm. 19.
[5] Konferensi Waligereja Indonesia, Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 194.
[6] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan Allah: Ajaran Agustinus tentang Doa (Judul asli: The Longing of The Heart: Augustine’s Doctrine on Prayer). Diterjemahkan oleh L. Prasetya (Yogyakarta: Kanisius, 2011), hlm. 11-12.
[7]Katekismus Gereja Katolik, diterjemahkan berdasarkan edisi bahasa Jerman oleh Herman Embuiru (Ende Arnoldus, 1998), no. 2559-2600.
[8] Youcat Indonesia, diterjemahkan berdasarkan edisi bahasa Jerman oleh Yohanes Dwi Harsanto, et.al (Yogyakarta: Kanisius, 2012), no. 469.
[9] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan ..., hlm. 15.
[10] Konferensi Waligereja Indonesia, Iman Katolik: Buku ..., hlm. 200.
[11] Stefanus Seo dan Angela Siallagan, Manusia Makhluk Beratribut (Yogyakarta: Kanisius, 2016), hlm. 59-60.
[12] Youcat Indonesia, diterjemahkan ..., no. 486.
[13] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan ..., hlm. 86.
[14] Youcat Indonesia, diterjemahkan  ..., no. 486; T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan  ..., hlm. 86-87.
[15] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan ..., hlm. 86-89 dan 164.
[16] Youcat Indonesia, diterjemahkan ..., no. 493.
[17] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan ..., hlm. 68.
[18] Anthony de Mello, Hidup di Hadirat Allah (Judul asli: Contact With God). Diterjemahkan I. Suharyo (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hlm. 62-63.
[19] Katekismus Gereja Katolik, diterjemahkan ..., no. 2840.
[20] Anthony de Mello, Hidup di Hadirat  ..., hlm. 69-70.
[21] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan ..., hlm.148-150.
[22] Katekismus Gereja Katolik, diterjemahkan ..., no. 2607.
[23] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan ..., hlm. 93.
[24] Anthony de Mello, Hidup di Hadirat  ..., hlm. 53.
[25] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan ..., hlm. 93-101.
[26] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan ..., hlm. 129-133.
[27] Katekismus Gereja Katolik, diterjemahkan ..., no. 2629.
[28] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan ..., hlm. 134-147.
[29] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan ..., hlm. 155-160.
[30] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan ..., hlm. 189 – 191.
[31] Anthony de Mello, Hidup di Hadirat ..., hlm. 162.
[32] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan ..., hlm. 192-195.
[33] Katekismus Gereja Katolik, diterjemahkan ..., no. 2715.
[34] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan ...,hlm. 197-203.
[35] T. J. van Bavel, Hatiku Merindukan ..., hlm. 204-211.

Komentar

Postingan Populer